I wrote these short paragraphs in 2013. It was before my father was finally hospitalized again so many times due to lymphatic cancer. The struggling began in 2014. After 3 years of continuous chemotherapy, he passed away on 26 August 2017. I pray to Allah every day, that we will be gathered in Jannah someday.
13.11.20
Abati Tersayang
I wrote these short paragraphs in 2013. It was before my father was finally hospitalized again so many times due to lymphatic cancer. The struggling began in 2014. After 3 years of continuous chemotherapy, he passed away on 26 August 2017. I pray to Allah every day, that we will be gathered in Jannah someday.
11.8.20
Awal Kemarau 2020 di Atas Kereta Sri Tanjung
Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang berlalu lalang di pikiran. Saking pusingnya serasa ingin ber-solo travel setelah pandemi ini berakhir.
Kali ini kami melakukan sebuah perjalanan di tengah parahnya pandemi yang masih menyerang negeri. Tentu saja bukan perjalanan untuk tamasya. Kami memutuskan naik kereta karena lebih aman. Ini pertama kalinya pulang naik kereta api. Kepulangan kali ini adalah do'a yang telah kupanjatkan selama 3 tahun terakhir ini. Karena pandemi belum berakhir, kami harus tes rapid dulu dan menunjukkan hasilnya setiap akan boarding ke kereta. Kami naik kereta ekonomi Sri Tanjung dari Stasiun Gubeng ke Stasiun Madiun.
Dari kejauhan tampak panas terik pertengahan bulan Juli, tapi kami masih bisa melihat hamparan hijau sawah. Tampak beberapa orang sibuk menggarap sawah. Ada juga yang sedang berteduh dibawah dua atau tiga pohon ditengah-tengah silaunya cahaya matahari. Beberapa anak kambing sibuk mengunyah dipinggir rel tanpa mempedulikan kota besi yang melaju meniup bulu-bulunya yang putih bersih. Angin yang menyapa dari pendingin udara membuat kami lupa panas udara luar yang dipisahkan oleh tipisnya dinding kereta. Waktu terus berlalu. Terkadang kereta melewati stasiun-stasiun kecil, kemudian berhenti sebentar di stasiun besar. Sampai akhirnya kami sampai di daerah Caruban dengan cahaya matahari yang mulai keemasan.
Sekitar tiga hari kami menginap di Madiun. Menyelesaikan urusan yang harus diselesaikan. Aku pulang diiringi do'a ibuku. Semoga aku selalu dilimpahi kebaikan dan dimudahkan segala urusan. Sepulang dari sana aku memikul sebuah tanggungjawab baru. Semoga Allah memudahkan jalanku serta mewujudkan segala niat baikku.
Kami sampai lagi di Stasiun Madiun pada Minggu pagi. Kereta akan berangkat sekitar jam 10. Kami sudah sampai di stasiun jam 8 pagi. Kami diantar taksi dari sebuah desa dekat Pasar Pagotan dan menempuh perjalanan sekitar 20menit untuk sampai di stasiun. Suasana masih lengang pagi itu, hanya ada beberapa orang yang bersiap naik Kereta Sri Tanjung ke Surabaya. Beberapa sepertinya calon mahasiswa yang diantar orangtuanya. Sepertinya mereka akan mengikuti tes di Surabaya. Kami semua segera menyiapkan kertas-kertas yang akan diperiksa oleh petugas.
Meskipun sudah sarapan, aku tergoda dengan aroma roti yang berbaur dengan kopi. Karena mereka memberikan diskon 50% maka aku membeli delapan sekaligus. Anak stasiun pasti hafal dengan merk roti ini. Kereta-pun datang, aku bergegas menyeret koperku. Sepanjang jalan menikmati barisan pohon jati yang berganti dengan barisan pohon trembesi. Lalu berganti lagi menjadi sawah yang berganti menjadi panjangnya pondok pesantren di Peterongan. Dari hutan jati, ke luasnya sawah hijau, sampai rumah-rumah penduduk yang berdempetan, jemuran yang digelar dibawah nyala matahari Surabaya.
Perjalanan pun terhenti. Menyisakan perasaan yang teraduk-aduk. Akhirnya aku pulang. Entah kota mana yang akan kusebut dalam kepulanganku selanjutnya.
16.2.20
Q & A
14.4.19
Backpacking ke Semarang 2018
![]() |
| penampakan tahu gimbal |
![]() |
| Sarapan di Cimory Restaurant |
![]() |
| Masjid Istiqomah Ungaran |
![]() |
| Gereja Blenduk / GPIB Immanuel |
![]() |
| Nasi Goreng Babat Hengky |
![]() |
| sarapan terakhir di hotel |
14.10.18
Jogjakarta: Becici Peak, Sadranan Beach
Kali ini ke Jogja dalam rangka outing kantor. Kami mempersiapkan acara ini dalam waktu yang cukup singkat, 2 minggu saja. Luar biasa bukan. Kami baru booking tiket hotel dan kereta seminggu keberangkatan. Akhirnya kami cuma kebagian tiket kereta berangkat nya dari Surabaya. Pulangnya kami pakai Elf yang kami sewa selama kami bepergian di Jogja. Bisa kebayang pulangnya, auto mabok hahaha.
Hari pertama kita berangkat naik kereta dari Stasiun Gubeng, Surabaya sekitar jam 6 sorean, sampai di Jogja tengah malam. Kami menginap di Indies Heritage Hotel Prawirotaman, karena cuman hotel itu yang bisa menampung kami ber-sebelas-an orang 2 minggu sebelumnya. Ternyata hotel ini unbelievably keren. Dengan arsitektur khas kolonial tapi sama sekali nggak serem. Hotel itu punya jendela-jendela lebar, dan kalau beruntung bisa dapat kamar yang balcony nya menghadap ke kolam renang, sisanya mempunyai view ke Gunung Merapi. Harganya juga terjangkau, mungkin karena hotel ini agak masuk ke gang, jadi tidak di pinggir jalan. Overall, kami bahagia menentukan hotel yang bagus meskipun dengan persiapan yang sangat mendadak. Berikut penampakan hotel-nya, tapi ini foto-foto menurut sudut pandang aku sih, nggak kepikiran buat ditulis di blog. Jadi, untuk penampakan kamarnya kalian bisa searching di situs-situs travel yang buat booking hotel, lengkap sama harganya.
![]() |
| Unfortunately, it was so cloudy. We can't see Mt. Merapi clearly. |
#1 DESTINATION : PUNCAK BECICI
Perjalanan dari hotel ke Puncak Becici sekitar 1 jam. Meskipun naik elf, sesungguhnya sopirnya adalah orang Surabaya dan kami harus kemana-mana pakai Google Map. Kami juga sempat tersasar untuk mencapai ke lokasi. Selain itu jalan yang dilewati juga cukup terjal dan menanjak. Seperti yang kita lihat di media sosial, wisata hutan pinus cukup banyak diminati dan dikunjungi. Puncak Becici ini bahkan pernah dikunjungi oleh Presiden Barrack Obama. Sebenarnya kami juga bisa menemui hutan pinus ini di daerah Jawa Timur, tapi setelah searching foto-fotonya hutan pinus di Jogja kami tertarik untuk mengunjunginya. Awalnya kami berencana ke Hutan Pinus Imogiri, tetapi karena lokasi kedua kami adalah laut di Gunung Kidul, maka kami mencari hutan pinus yang sejalur.
Puncak Becici ini sebenarnya sama dengan hutan pinus di Jawa kebanyakan. Banyak terdapat spot-spot foto dan properti tulisan-tulisan. Kalau menurut aku sih, nggak begitu suka dengan adanya properti tulisan seperti itu, di tempat wisata manapun. Begitu pula dengan lagu yang diputar keras-keras, padahal ini kan wisata alam. Karena kita lebih menikmati keaslian pemandangan daerah tersebut dibanding embel-embel yang lain. Tetapi kalau dibuatkan rumah-rumahan pohon, itu masih bisa dimaklumi lah. Oh ya, disini juga ada hammock yang disewakan buat foto. Di setiap spot foto disediakan kotak uang juga, kita bisa menyumbang seikhlasnya. Serunya, sambil foto-foto, kita bisa sekalian panjat pohon. Pemandangan dari puncaknya juga sangat indah. Berikut penampakannya.
#2 DESTINATION: PANTAI SADRANAN, GUNUNG KIDUL
Di daerah Gunung Kidul, berderet banyak pantai yang bisa kita kunjungi. Kali ini kita memilih Pantai Sadranan karena bisa untuk snorkeling. Meskipun tetap harus hati-hati karena di pantai ini, lautnya merupakan Samudera Hindia dengan ombak yang tinggi. Aku yang ngga bisa renang inipun coba-coba untuk ikut snorkeling, meski ujung-ujungnya harus menangis karena hampir tenggelam hahaha. Jangan coba-coba bagi yang ga bisa renang, karena arusnya cukup kuat. Tapi sepertinya kita salah spot, ada juga kok spot yang airnya agak tenang dan bening tapi agak masuk ke daratan. Kayaknya itu yang aman. Saat itu entah kenapa kita langsung ke pinggir pantai yang arusnya deres dan malah ke tengah. :(
Jenis pantainya sih mirip dengan pantai di daerah Malang Selatan. Sama-sama Samudera Hindia dengan karang-karang yang tinggi, pasirnya putih. Oh iya, karena ini adalah wisata kantor yang membawa serta para orang-orang yang lebih tua, sebelum masuk ke kawasan wisata pantai, kami makan siang dulu di sebuah warung lesehan yang sangat ramai (karena satu-satunya deh kayaknya). Tempatnya pun jauh dari peradaban. Nah sebelum masuk kawasan pantai ini, kita masuk semacam jalan tol dimana kita bisa memilih mau ke Pantai mana, dan membayar tiket di pintu masuk itu. Jadi ini semacam komplek perpantaian (halah, ahahaha). Disana juga dijual berbagai macam ikan-ikan laut dan lobster.
Besoknya kita cuman city tour biasa sih. Cuman ke keraton aja, trus belanja di Pasar Beringharjo, lalu pulang ke Surabaya.





















































