Tampilkan postingan dengan label photo diaries. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label photo diaries. Tampilkan semua postingan

5.11.17

Snapshots with Xiaomi Redmi 4A

Holaa... It's been a while ya.

Jadi ceritanya kali ini pengen sharing aja. Sekitar 6 bulan yang lalu beli smartphone ini. Setelah sebelumnya memakai merk Asus zenfone 4s yang ngga seberapa suka sama kameranya karena resolusinya masih cenderung pecah, warna fotonya lebih ke kuning (white balance nya), capture nya lama. Kalau masalah telepon genggam mah saya ngga terlalu ngebet dan pengen beli yang mahal-mahal, nggak sampai yang obsessed banget. Karena sering nyobain Xiaomi nya temen dan hasilnya bagus, akhirnya pilihan saya jatuh pada merk ini. Alesannya ya karena suka foto-foto ga jelas buat instagram, jadi butuh ponsel yang hasil nya bagus. Karena hal yang paling penting dari sebuah ponsel bagiku sih cuma kamera, RAM, ama baterai.

So far, suka sama hasilnya kok, mirip sama DSLR lah warnanya, gambarnya juga jernih. Jadinya sekarang males banget bawa kamera kemana-mana. Buat yang mau intip hasilnya gimana. Let's take a look below photos. Tapi ini udah di edit sih. My favorite editing apps are VSCO and Snapseed. For more snapshots, go stalk my instagram: @__inggtt

FYI, saya beli Xiaomi ini di Erafone, takut beli onglen gaes. Disini lengkap ama garansinya.

First photo taken

Ini gak disponsori Visval Bags yak, aahaha

Taken at Graha Pacific Surabaya, my office building

 Mencoba minimum

My favorite Shoes

Traditional Market

Sunday Morning 
Hasil bumi



Old Buildings

3.4.16

A Cyclista: Wandering Around Surabaya


my electric blue
Hey, I'm officially a cyclist since February 2016. I just want to wander around the city, that's my motivation, getting slimmer is a bonus. Cycling is a super economical and recreational sport I've ever experienced. No serious pain, at least no joint paint. I just found out that my bike is heavier than any common bike, so I plan to sell it and buy a lightweight one like racing bike. Of course it cost more than this one. So far, I cycled from west Surabaya to Jembatan Merah, but several weeks ago I got sick and the farthest route was to Gentengkali/ Taman Ekspresi, I like that place, so peaceful and not too crowded like Bungkul. My favorite route is always Jl. Tunjungan. This week I have to re-start cycling everyday. At least by the end of the week, I will be able to cycle to Jembatan Merah again. Since the bike is too heavy, it needs a lot more effort. My worst enemies so far are reckless motorcyclists and my anemia plus low blood pressure. The more I'm cycling, the less anemia symptoms I experience. Bicycle makes me a lot happier I guess, I can pause my trip whenever I find something good to be captured and post it on social media. It turns out that I love car free day. The city filled with a truly live motion of its people, the city become more human. I think we need a really huge park like Central Park in New York as a recreational park so that people can live healthier and happier. It helps people to get extra supply of oxygen from trees instead of air conditioner. 

Anyway, here we go, some snapshots I took on the streets every weekend. 

Mountain bike vs. road bike
Craving for more oxygen
Museum Surabaya
A Dutch architectural building at Jl. Veteran
Music and cycling, perfect combination to enjoy the trip
Quiet morning at Jl. Gentengkali
Anno 1912. Ex-building of Rabobank, now left without name, Jl. Tunjungan

11.7.15

Short Escape to Mountain, Again

Kita benar-benar tidak bisa menilai seseorang dari satu sisi saja. Setidaknya itu menjadi sebuah tamparan keras bagi saya akhir-akhir ini. Terkadang orang yang menurut kita baik belum tentu mempunyai niat yang baik pada kita, begitu pula sebaliknya. Terkadang ada juga orang yang terlalu larut dalam emosi dan keadaan sekitar, sehingga hal yang seharusnya ga ada hubungannya sama dia sama sekali malah membuat dia usil mengecap karakter seseorang buat ngompor-ngompori orang lain *wosh*. Terkadang saya sendiri tidak pandai dalam menilai karakter orang, beda lho antara menilai karakter dengan sok tau menilai seseorang dari luarnya saja. Tapi sepertinya saya harus belajar untuk bisa menilai karakter orang. Dengan begitu kita bisa menentukan mana orang-orang yang memang tulus dengan mana yang bulus.

Ahay! Lupakan tentang polemik yang membara di dalam diri. Lagi-lagi kami secara spontan melakukan perjalanan keluar kota. Meskipun awalnya saya hanya ingin merencanakan akhir pekan itu dengan menghabiskan Norwegian Woods (gak mari-mari, sebel). Namun akhirnya, ingin diajak ke pantai. Dengan hebohnya saya membawa baju ganti, kamera, serta kaca mata hitam. Sabtu siang di Surabaya saat itu terasa sangat terik. Kami pun bergegas menuju Pantai Delegan di kota Gresik. Dengan bantuan GPS (gara-gara pak nahkoda lupa-lupa ingat jalan menuju kesana), akhirnya kami… gagal sampai kesana karena ada… perbaikan jembatan dan menimbulkan macet berkepanjangan. Tanpa banyak pertimbangan, kami pun putar balik dan menuju Pacet. Kami juga melewati pabrik tempatku dulu bekerja, banyak yang berubah jika dilihat dari depan.


Sampailah kami semua pada ketinggian 925 meter di atas permukaan laut, Selamat datang di pemandian air panas Padusan di Pacet, teroreeeet. Sesampainya disana makan gorengan dulu sambil menghirup udara gunung, asyik senangkan hati. Baru setelahnya kita semua menceburkan diri ke kolam renang. Sayangnya saya ga bisa renang, jadi cuma bisa sok-sok berendam saja. Awalnya kami menceburkan diri di kolam dingin. Luar biasa segar setelah seharian macet dan panas. Baru setelah itu nyebur ke air hangat yang mengandung belerang. Kami pun berenang disaat matahari akan terbenam dan dipagari pepohonan pinus tinggi dengan ranting yang cantik. Huwaa, meskipun hanya beberapa jam saja perjalanan plus menghabiskan waktu di sana, rasanya badan kami segar bugar kembali. Sayang sekali esoknya masih hari Minggu, dimana kami harus mencuci dan mengepel. Gagal bugar. Berikut foto-foto asyiknya suasana di kota santri, eh, di Pacet. 

Kadangkala saya berpikir betapa tenangnya tinggal di dekat gunung. Suasana yang sejuk, sepi, dan menenangkan hati, memanjakan mata dengan hamparan hijau. 






6.6.15

Ke Tanah Kelahiran

Dua minggu yang lalu, tanpa direncanakan sebelumnya, saya dan beberapa teman sekantor pergi keluar kota. Kala itu hari Sabtu, kami semuanya sedang lembur, tiba-tiba salah satu teman kami mengajak keluar kota karena akan mengantar teman kami satunya ke rumah keluarganya di Ponorogo. Esoknya ia akan kembali ke Jakarta. Tanpa berpikir panjang lebar (tanpa persiapan pakaian misalnya), secara spontan kami semua mengiyakan dan sepakat untuk menginap di rumah salah satu teman kami di Madiun. Dua belas tahun lamanya saya tak pernah menginjakkan kaki di kota Madiun. Meskipun bakalan seumur hidup nama kota itu berjajar disamping tulisan tempat tanggal lahir. I’m quite sensible about this little town sometimes. Awalnya bakalan berfikir bahwa perjalanan ini bakalan mirip family visit alias kunjungan keluarga. 

Kami berangkat dari Surabaya sekitar pukul 1 siang dan berencana lewat jalur yang ‘ora umum’ demi menghindari kemacetan. Biasanya kalau lewat jalur bus umum akan melalui jalur Krian, Mojokerto, Kertosono dan seterusnya. Tapi kali ini kami lewat jalur Bojonegoro. Di blog ini, saya pernah cerita kalau dulu ikut KKN di Bojonegoro yang lebih dekat ke Ngawi daripada ke Bojonegoro kota. Kami juga lewat Bojonegoro kota. Ah, banyak sekali kenangan di kota ini, mulai dari ke Perhutani dekat kota buat minta program penyuluhan jati, sampai naik bus Gunung Harta yang luar biasa membuat jantung ikut olahraga. Selanjutnu.ya kami menuju Nganjuk di daerah Gondang. Pemandangan hutannya semacam di Bali, jalannya luar biasa berkelok-kelok seperti perjalanan cinta kita, mas, peti kemas. Sepanjang jalan ditumbuhi pepohonan jati. Huaa, aku suka bau daun jati dan bentuknya yang lebar, oh, Tectona grandis. Karena masih peralihan musim hujan ke musim kemarau, dedaunannya masih berwarna hijau. Saya kira pemandangan seperti ini akan saya temui di Caruban atau Saradan. Karena sewaktu saya kecil, ketika lewat daerah itu semacam sedang hilang di hutan mana gitu. Ternyata setelah keesokan harinya lewat Caruban, rasanya biasa saja. Seperti jalur pada umumnya. Sekarang sudah banyak bangunan.

Sedikit pengalaman dari orang tua saya sewaktu mereka muda, mereka ke Madiun dari Surabaya naik sepeda motor Honda yang kata ayah saya ‘lakik’ banget. Biasanya mereka sampai Hutan Saradan di malam hari. Sebelum memasuki area hutan, akan banyak orang berhenti disana. Bukan karena ada odong-odong lewat, tapi pada jaman itu orang-orang biasa menyeberangi hutan bersama-sama. Jadi mereka berkumpul dulu, kalau sudah banyak, para pengendara motor akan memasuki areal hutan bersama-sama, sambil bergandengan tangan lalu mengibarkan bendera Slank. Di tengah hutan mereka pada menggelar tikar, istigoshah. Hehe.

Dibandingkan dengan saat ini, tanpa menunggu pengendara yang lain, yang ada malah serobot-serobotan sama bus Mira. Hadeh, itu sopir bus kalau menyetir semacam sedang mengantar istrinya yang mau melahirkan. Sudah begitu, dia suka main serong, serong kanan, serong kiri. Marka di sepanjang jalan ini juga bikin kepala nyut-nyutan, semacam perempuan lagi ngambek sama pacarnya, sebentar nyambung, sebentar putus-putus, sedangkan bapak si cewek (polisi) lagi sembunyi di balik pepohonan, ibaratnya kalau marka jalan lagi nyambung, si bapak siap-siap menghadang. Karena kami sampai di areal hutan di malam hari, dengan brightness lampu sekitar 20%, kami bias lihat bintang bertaburan macam orang ketombean setelah tiga hari ga keramas. Malam itu malam minggu, bintang udah ada, pasangan ga ada.

Tujuan pertama malam itu adalah istirahat di rumah teman kami. Saya kaget ketika tahu bahwa rumah teman saya itu di Kecamatan Dagangan, yang artinya akan melewati desa saya. Kata ibu, dulu saya lahir di Pintu. Iya Pintu!  Itu nama desa di Madiun setelah melewati Desa Sawahan (rumah nenek saya). Sebelum melewati pedesaan yang dekat ke Ponorogo itu, kami pasti melewati pasar fenomenal sebagai ancer-ancer ke desa nenekku. Pasar Pagotan namanya, sewaktu saya kecil, rasanya perempatan pasar itu terlihat besar sekali, sekarang terlihat kecil. Mungkin sudah terbiasa dengan perempatan raksasa di Surabaya. Pasar ini menjadi tempat kenangan pertama kali ayah dan ibu saya berjumpa di sebuah lapak soto ayam. Dulunya ayah didinaskan ke kota ini, lalu bertemu ibu, hehe. Malam itu Pasar Pagotan ramai sekali.  Kata ibu, biasanya kalau ramai begitu waktunya pabrik gula buka. Memang di kecamatan itu juga terdapat  pabrik gula. Pabrik itu hanya buka beberapa kali dalam setahun. Sewaktu kecil aku menyukai pepohonan tua yang hijau keemasan di halaman pabrik gula itu, juga keretanya yang unik dengan rel silang yang menyeberangi jalan raya. Dulu kami menaiki delman dari pasar ke rumah nenek, tidak jauh juga. Bahkan dulu kami sekeluarga pernah sampai Madiun terlalu malam karena ikut bus terakhir dari Terminal Bungurasih. Sampai di pasar sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Setelah makan pecel sebentar di pasar, kami jalan -kaki dari pasar sampai pabrik gula. Sudah gelap, dingin pula. Malam itu sepi dan jalanan hanya dilewat pedati yang ditarik sapi dengan bunyi klinong-klinong, biasanya pedati itu juga menarik tebu. Untungnya kami menemukan dokar malam itu, pada akhirnya. Perbandingan yang luar biasa berbeda dengan Pasar Pagotan dua minggu yang lalu. Mobil yang kami tumpangi merayap pelan-pelan melewati kerumunan orang yang berjalan sesak, para muda-mudi menghabiskan malam minggu mereka melihat-lihat lapak CD dangdut dan odong-odong. Dentuman musik dangdut menjadi latar belakang dibalik ramainya suara kerumunan. Tapi keramaian itu hanya terbentang beberapa meter saja, karena setelah itu kita disambut kawasan yang banyak ditanami tebu, pabrik gula yang tetap tenang, sepi, mendekap keangkerannya sendirian. Tak banyak yang berubah dari tempat ini. Bangunannya juga tak bertambah banyak, tetap sama seperti terakhir kali kutinggalkan. Kota kecil itu tetap sepi.

Pagi harinya kami berjalan-jalan kecil di dekat rumah teman kami di daerah Joho. Ibu saya bercerita, ketika SD, ia dan teman-temannya di sekolah melakukan gerak badan (olah raga atau jalan-jalan) setiap hari Sabtu. Mereka berjalan dari Sawahan ke Joho (sekitar 10 KM). Anak SD, saudara-saudara! Katanya kalau ada yang mulai lemas dan tidak kuat boleh istirahat di tengah perjalanan lalu pulang. Biasanya titik akhir perjalanan mereka mencari kitab suci adalah di SD Joho. SD itu tetap sama seperti yang dulu, karena yang saya ceritakan ke ibu masih sesuai dengan kenangannya akan SD itu. Pada masa itu, banyak guru-guru yang mengikuti muridnya sampai sepatu pantofel mereka dilepas dan dijinjing karena sepatu pantofel jaman dulu terbuat dari kulit dan teksturnya kaku, sehingga tidak enak dibuat berjalan jauh. Dari SD Joho kami berjalan terus sampai melihat bentangan Gunung Wilis yang dikelilingi bebukitan hijau yang mulai gundul. Di kanan dan kiri kami terdapat sawah yang bertingkat-tingkat. Oh, indahnya negeriku.

Kemarin saya sedang asyik mengobrol di tengah istirahat makan siang dengan salah satu operation staff di pelayaran tempatku bekerja. Beliau bercerita betapa mirisnya keadaan negeri kita. Negara kita ini memiliki bentangan sawah yang luar biasa luas dan tersebar di penjuru negeri. Tetapi beliau mengatakan kalau kita banyak mengimpor beras dari Vietnam, India, dan Thailand. L

Oh iya, sebelum pergi meninggalkan rumah temanku di Madiun, kami semua berpamitan dengan nenek temanku. Di usia yang sangat renta, mungkin seusia nenek waktu saya kecil, beliau sangat ramah menyambut kami. Kebetulan kami sebagai tamu juga bisa berbahasa Jawa Krama Inggil, sehingga kami bisa berkomunikasi lancar dengan simbah, meskipun beliau tidak selalu menjawab dengan bahasa krama, sebagai yang lebih muda, rasanya tidak sopan kalau menjawab dengan bahasa Jawa biasa atau bahasa Indonesia. Sehingga ketika kami pulang, rasanya beliau segan melepas kami, dipeluknya erat kami sambil cium pipi kanan kiri macam sosialita begitu, hehe. Saya sendiri meskipun tidak setiap hari berbahasa Jawa Krama, tetapi saya besar di lingkungan Jawa yang kental, meskipun ayah saya orang Surabaya asli, dan ibu orang Madiun. Saat kecilpun saya terbiasa berbicara bahasa itu dengan orang yang lebih tua. Mirisnya, jangankan generasi di bawah saya, generasi yang seangkatan dengan saya saja ada yang tidak bisa berbahasa Jawa Krama meskipun orang Jawa asli. Tapi saya bangga, di lingkungan teman-teman saya, ketika kita sedang ingin berbahasa itu, kami saling berbicara dengan Jawa Krama meskipun dengan teman sebaya, kadang kami suka tertawa sendiri dengan kebiasaan itu. Yah, itung-itung latihan kalau dapat mertua Jawa asli. Hehe.

Yap, dan perjalanan spontan itupun berakhir dengan pergi ke toko oleh-oleh, ATM, dan rumah ayah angkat salah satu temanku. Saat itu beliau berpesan, “Ini semua pada belum nikah? Buruan nikah! Tunggu apa lagi, kerjaan sudah mapan, apalagi yang ditunggu?”.

Akhir kata, terima kasih.

Selamat menikmati foto-foto yang saya ambil di sepanjang perjalanan dengan ponsel pandai saya, Asus Zenfone 4S, meskipun saya tidak terlalu suka dengan warna kameranya.


hai matahari! senang jumpa kau di tanah kelahiranku!

Gunung Wilis

sawah

Gondang, Nganjuk

Into the Woods

Tectona grandis' leaves

Nganjuk

Gerabah

Tectona grandis lagi

Awas! Begal Pisang

Dua pohon cantik di depan SD Joho, Madiun

Singgah dulu

Green

17.5.15

Oh, Mountain!

Sudah berapa dekade lamanya tidak menulis di blog ini. Hiks. Dalam beberapa bulan saja, banyak hal yang berubah. Begitulah hidup. Patut dipertanyakan jika kita selalu ingin dalam situasi yang sama, yang aman-aman aja kalau bisa selamanya. Jangan.

Baru sebulan yang lalu (mau dua bulan ini) pindah kerja ke tempat yang baru di Surabaya. Betapa bahagianya berkantor dekat rumah, sekaligus banyak pelajaran yang 'mau gak mau' harus terlahap. But, thanks for problems that makes us bigger (not my stomach). Awalnya bahagia sekali punya teman-teman kerja yang seusia dan 'welcome', meskipun harus bersama sebulan saja. Perjalanan yang mau saya tulis ini juga berkaitan dengan mereka.

Ceritanya hari itu kami berencana pergi ke Gunung Bromo, tepat sehari setelah kepergian kawan-kawan lama. Haha. Dan manifest ekspor sedang menggunung menjelang long weekend. Tawaran pergi ke Bromo ini datang pada hari Senin oleh sebut saja namanya Pak BudiL alias Pak Budi Logistics dan langsung saya 'iyain ajah' karena saya belum pernah sama sekali ke Bromo. Akhirnya hari Kamis dari kantor kami berangkat juga. Awalnya saya ga punya ide akan pergi dengan berapa personil dan siapa saja. Ternyata selain dengan beberapa teman yang saya kenal, juga ada anak yang dulu kerja di tempat saya sekarang ini. Sepanjang perjalanan kami tertawa tanpa henti. Mobil yang di nahkoda in sama Mas Hakim malam itu berubah jadi warung giras gara-gara playlist dia yang dangdut sekali, cocok untuk senam kejut maupun latihan gimnastik. Namanya juga anak gaul pelayaran, jadi yang dibahas ga jauh-jauh dari container dan spesiesnya.

Awalnya untuk naik cari jeep hardtop, kami melewati jalanan yang berkelak-kelok layaknya jalan hidup kami. Dan terus naik sampai betis Mas Hakim semakin memuai. Haha. Tempatnya juga  lumayan seram (namanya juga jam 1 malam). Karena waktu itu long weekend, maka kami ga bisa lihat sunrise di penanjakan. Akhirnya kami diturunkan dekat Seruni Point. Oh iya, FYI sewa jeep pada waktu itu Rp 650.000 untuk 8 orang, belum termasuk tiket masuk. Saya sih belum pernah naik via Penanjakan. Kalau via Seruni Point, naiknya sih susah pas awal-awal saja karena sedikit curam. Tetapi nanti kalau sudah agak tinggi ada tangganya.

Dulunya sih saya belum pernah manja kalau naik gunung. Tetapi semenjak pada minggu itu juga saya ke dokter di kantor ayah, coba tensi dan ketahuan kalau saya anemia dan hipotensi, ditambah lagi pada saat itu saya belum makan apa-apa, terakhir makan ya makan siang hari sebelumnya plus belum beli obat penambah darah. Akhirnya, yang terjadi adalah wajah saya berubah jadi pucat, badan lemas dan mata berkunang-kunang. Untungnya teman saya bawa teh botolan yang manis. Hal itu juga terjadi ketika naik ke kawah Gunung Bromo. Bahkan nausea saya semakin menjadi-jadi sehingga saya muntah dua kali. Apalagi sebelumnya saya banyak minum pocari sweat karena takut lemas lagi. Jadilah rawon sarapan pagi itu terbuang sia-sia, huhuhu.

Saya selalu suka gunung sejak kecil. Meskipun kalau diajak untuk mendaki gunung, saya akan berpikir dua kali. Apalagi dengan kondisi saat ini. Rasanya penyakit yang baru muncul ini telah menghilangkan keperkasaan saja. Haha. Tetapi mendaki gunung itu bisa juga diibaratkan jalan hidup kita. Kalau ingin hidup yang selalu upgrade, kita harus rela capek untuk mendakinya. Pada akhirnya , pemandangan di atas benar-benar membayar rasa lelah kita. Everyone has the ability to goes up. It depends on how you prepare anything. Contohnya, kalau kamu punya penyakit, kamu tahu bekal apa saja yang harus dibawa.

Selain melihat matahari terbit di Seruni Point, kawah Bromo dan Pasir Berbisik, kami juga pergi ke Bukit Teletubbies. Bukit ini sebenarnya adalah hamparan sabana yang dipagari bebukitan hijau nan indah berselimut kabut. Semalam, saat kami dalam perjalanan memang sedang hujan deras. Namun kabarnya jika ada hujan deras, makan suhu udara di dekat Bromo akan sedikit lebih hangat.

di padang sabana yang menghijau di musim penghujan

be free! life's good. 

view from Seruni Point before sunrise

Seruni Point di Pagi Hari

ini bunga apa ya?

Going down from Bromo Crater

Ijooookkk

Tired and happy faces :D

Really love this journey, nature and happy friends are always the best combination for your little escape from reality. :)

15.12.13

Snapshots for "Trip to Historical Site For ASEAN Unity 2013"

A week full of awesomeness ever! This week I became a liaison officer for ASEAN event "Trip to Historical Site For ASEAN Unity 2013", FYI this is their first time! This is also the first time for me as liaison officer. I've got so many things to learn, and I think it'll change my perspective about many things after our daily conversations with all LOs, Pak La Ode, Mas Arya, Mas Ryan, Mas Rojil (who looks like Ramon Y. Tungka.... wait for it.... from distance! :D and combination with Mas Breng's face, our senior at English Department) and all the extraordinary things that we experienced everyday and also learn about how to handle an event that might gone out of expectation. I learned a lot especially from Pak La Ode who deserves great gratitude for saving this event. I couldn't imagine how this event turned out to be without him. Well, he's really a funny person and calm, he's a history lecturer at our campus and so is Mas Arya while Mas Rojil is a lecturer at Ciputra. Suddenly I remember, before I decided to choose English Department as second choice in university, I really wanted to learn history and my parents wasn't really agree about me study in history major, but then my father always supports me to find history books I want to read or just having such talk. My father was born in the very late 40s, so he often tells me about many things. This event is perfectly right for me since I love history. Unfortunately, I couldn't attend the lecturing session because it was only for the delegates. Well, here are just some snapshots that I took.

Well, the very first briefing was on Sunday and I had no idea we were going to Trowulan sub-district, Mojokerto. So, yaayyy! First time I went there with my father when my lecturer gave final assignment about Majapahit Empire. I was so excited and I asked my father to go with me. I couldn't imagine about their life or appearance in Majapahit era until I went to the museum. I was speechless, my imagination went through how they dress, their activities, their ceremony, etc by looking at the collection of the museum. Lately I can picture it more by reading Pram's Arok Dedes (not yet finished reading it!) about the life of East Java's kingdoms. I like how people called our province as mystical, indeed. So, this is my second time to went there, and everything seems better. There is a renovation by building a roof for the remaining trace of Majapahit site near the museum, so that the tourist can see better from the height. Although the guide said that it wasn't fully 100% yet and still in a process.

Trowulan is the former capital city of Majapahit Empire. The territory of the empire were including Malay Peninsula and some part of Phillipine's territory (they are all now Singapore, Brunei, Phillipines, Malaysia, and Thailand). Well, the popular trivial thing about the name of the empire is, maja is a fruit, and pahit means bitter. Maja is a typical fruit that grows in Mojokerto. The establishment of the empire itself started from Raden Wijaya who was given a territory in Tarik Forest, Mojokerto. Then, he established a village named Majapahit which the territory was increasingly widespread under the throne of Hayam Wuruk and assisted by Gadjah Mada as his chief minister. Majapahit was also considered as wealthy trading state that took control over the trade in the South East Asian's well-known and influential strait of Malacca. We also visited some sites like temples that spread near the museum.

Trowulan Museum, Mojokerto
We can see the site of Majapahit Empire from such height
Arca from Majapahit Era
Gapura Bajang Ratu
Some historians believe that this temple was the main gateway to enter an important building in Majapahit Empire 
Actually the Reog and Jaranan dance wasn't performed as complete as in the annual Faculty of Humanities Airlangga University's Culture Festival.
Reog, although it is originated from Ponorogo, East Java, sometimes it is showed along with Jaranan or Javanese traditional horse dancing
Candi Tikus
It was a 'pertirtaan' or ritual pool bathing, the concept of this temple, there is several filter as they believed that it made water became pure and holy.
Candi Brahu
This temple was believed as cremation place of Majapahit's kings
Gapura Wringin Lawang
gapura: gateway, wringin= banyan, lawang= gateway

After visited Trowulan Museum and Majapahit sites in Mojokerto, the next day we explored some historical places in Surabaya. Before that, we also went to Porong, saw the Lapindo mud flow. When I go to Malang or anywhere else via Surabaya-Gempol Freeway where the center of explosion is near to the freeway. I see high mound next to the railway but I've never gone up stair to see the mud behind the mound. It really in vast area and also terrifying. I also talked to some inhabitants that selling some documentary CD of Lapindo mud flow. The ironic part is, according to them, the government has already provided settlement for them as long as they pay for about 200 million Rupiahs. There are about 16 villages, 3 sub-districts and more than 10 millions units of house drowned. Since the area was dominated by factories and became the inhabitants' livelihood, when it's gone, so is their job. But I think it cause more troubles because they only eking a living by selling documentary CDs, ojek or take tourist around the site by motorcycle, and also beggar :( 

After a sad story, we moved to the north part of Surabaya! I love these part, it's like we're trapped in the past. The first destination in Surabaya was Hong Tiek Hian temple. It is the oldest temple or kelenteng in Surabaya. Located near Kembang Jepun's Chinatown, the temple is also near to inhabitant's houses. It is considered as Ku Bhi Lai Khan's inheritance, it was built by his troops called Tar-Tar. First we entered the kelenteng, we were welcomed by Hio's aroma, statues and huge candles. The main building is actually divided in to two by a small alley. This alley connects the main street to inhabitants' settlement. We were welcomed by the performance of Wayang Potehi or Potehi Puppet on stage. This performance is originally derived from China. The word Potehi comes from poo-tay-hie, poo: fabrictay: pocket or pouch and hie: puppet. Overall, the meaning of Potehi is a puppet from fabric clothe and has a pocket played by the puppeteer. If there's no special visit, the Potehi Puppet Show usually performed in the afternoon. Sometimes we can find funny things inside the kelenteng too, such as laundry or sun-dried clothes, magic jar (jar to cook rice), but most of people who live there are not Chinese. 

Kelenteng Hong Tiek Hian, Surabaya's Chinatown
The oldest klenteng in Surabaya! Klenteng in English means worship place or temple of Confucianism, Buddhist, and Taoism's adherents
There are many altars in this temple

Dragon becomes symbol of demon repellent

Next, we visited Ampel as one of historical site in Surabaya and influential as the starting-point of the Islamic spread in East-Java. Before entering the area of Ampel Mosque, there is a long road of market that sells equipment of worship, clothes, foods. When I was in Junior High School, there were still many Arabians in the market sold perfumes, but I think there were none of them last week in this trip, or probably because it's a weekday. Unfortunately, we couldn't have the chance to walk around Kampung Arab. Kampung in Surabaya is a typical of neighborhood that live very close, side by side. My last walk in Kampung Arab was with Manic Street Walkers (a street walkers community in Surabaya) in collaboration with House of Sampoerna's program. There is a tradition in Kampung Arab's house that they need to apply sun-shade in front of their door so that strangers can not see inside the house. For further info about Kampung Arab near Ampel area, you can read some articles from Ayorek! project by hitting these links about An Afternoon Walk in Pasar Pabean and Kampung Arab and One Morning in Kampung Arab.

And those trip and sleepless nights was super awesome! 
My Selfie, 9th Floor  (literally it's 4th!) of The Empire Palace Hotel
This is how to drying up wet sneakers in your hotel room using the air conditioning's breeze  #lifeguide :))
Meanwhile, last night I went to C2O Library & Collabtive since today Ayorek! SUB Festive is held at Balai Pemuda, a festival to celebrate Surabaya's people, culture, uniqueness, places, and everything! Super excited, last year there was Ayorek! Treasure Hunting, kinda' collaboration research about Surabaya citizen. Inyongski and me wrote about Pasar Gembong, we also made some doodles like the maps, the people, and things you can find there, the concept is pretty much like They Draw & Travel. It will be published as a book entitled SUB Versi! :D Well, I'll tell you more about it later, the festival and launching will be held today!