19.1.12

Welcome to My Nest

Welcome to my nest, this is the place where I live in everyday. Pretty much like in a mess, when Indonesian talk about a messy room, they say 'BROKEN SHIP'. Haha, that's what my mother always insists on me to clean it up. I remember a story about a ghost that said they love messy and dirty place. No, I don't want a ghost stay in my room, or I'll hit them in face and nose. Do they have nose anyway? Forget about the ghost, and come in. :)

All of the event's poster I stole from board in campus (only my design except the 'My Name is Sinderella' ), and my favorite bands too.
So, i have an abandoned whiteboard that actually not running for it's function that turns into a pinboard. I made this collage from several magazine including travel magazine, flyer, catalogue, and even my teacher's thesis. Not so pretty actually, but it reflects all of my dreams. Then, I'm really into Coldplay and Keane, they're the bands I love the most. I love them since I was like in junior high school. Those posters of event and a film also I made it by myself except the 'My Name is Sinderella and I Hate My Stepsisters'. I collect them by when the event is over. It's something like 'Don't throw my poster to dustbin please'. I'm a newbie for the making of it, so... kinda bit narcissistic.



my own photoworks :)
The corner of my room is kinda new space for me. I made it a space for all my works, and some reminder board since I am a person that easily forget important things, so it so much help me to keep on my mind about something I should borrow or things to do, and also a tiny gallery for my photoworks.


I'm also into books and music
Books and music is two kinds of thing that fulfill my room everyday. My radio never stops playing great songs everyday, my earphone keeps on playing the indie musics I love, those CDs are the only I have. Well, I have only one, anyway. The Ting Tings, the CD I got from winning a quiz on radio, The Beatles I brought from my friend which she finally realized there was no CD inside it, but I love the cover, that's it. 

I realize that last semester was a CRAZY semester, I lived in my room from night to morning, the rest? I lived in campus. Yeah, a big surprise for me in December, my mother and my father changed the furniture,  and since then, I've got a brand new feeling about my room. What about your room? Have you fixed it up become a space where you are allowed to free your identity and show your favorites. Need inspiration? Click Teenage Bedroom This might help you to rearrange or being proud of your own messy room. I just love the tagline: This blog is my homage to all of us when we were still young and exciting, before we got old and boring.

9.1.12

Suatu Malam di Beranda


Aku. Menghempaskan seluruh beban pikiranku di sebuah beranda tua yang dingin. Badanku sedingin hujan yang menyelimuti dinding pabrik di depan rumah ini. Sinar lampunya menyorot dingin seakan ingin meleburku dalam malam yang bisu, hanya suara kricik-kricik yang terdengar merdu. Duniaku menjadi latah, tiba-tiba ingin menjadi apatis dan dingin. Aku lelah.

Lalu orang tua itu menyapaku dengan jaket coklat, serta sarung biru kotak-kotak mirip motif tartan. Aku hanya peduli dengan ceracau yang dingin tentang hujan, tanpa peduli bahwa orang lain sangat menyukai hujan. Ia duduk disampingku sambil mengancingkan jaketnya rapat-rapat. Tubuh yang senja telah membuatnya agak waspada dengan angin, hujan, dan malam. Namun, ia sering mengatakan tentang kesukaannya pada hujan sambil membayangkan pelita atau lampu minyak yang muncul dari kegelapan, membawa kabar gembira.

"Bagaimana ujianmu hari ini?", ia mulai bertanya.

"Payah! Mana bisa, bahan ujian yang tebalnya hampir seratus halaman, yang keluar waktu ujian cuma enam soal! Sia-sia aku begadang semalaman! dari yang kupelajari, justru yang nggak aku paham malah yang keluar!"

"Anak muda memang suka begitu, kurang berdo'a dan kurang bersyukur"

"Ah! Memang dosennya aja yang nggak masuk akal"

"Yah namanya saja kuliah. Hei! Nanti... kalau kamu sudah jadi dosen, kamu juga pasti akan jadi seperti itu. Ah! Ibu itu lho kalau ngasih soal suka bikin mahasiswanya tertipu", ia mengucapkan kalimat terakhir dengan muka mirip seekor bebek, menyebabkan keriput di wajahnya berkumpul di sekitar bibirnya.

Tetapi aku diam. Tak ada gunanya bercerita dengan orang ini. Ia tidak tahu betapa kecewanya aku malam ini. Ia pasti akan menyalahkanku, seakan-akan salahku sendiri tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Ah! Aku benci mata kuliah ini. Tapi, setidaknya aku harus lulus mata kuliah ini, nilaiku semester ini harus lebih baik dari semester sebelumnya. Mengapa tiba-tiba aku begitu peduli dengan nilaiku? Sementara, aku benci dengan mahasiswa yang sangat peduli dengan nilai mereka. Mereka hanya sibuk belajar setiap harinya, selalu update status di media sosial, aku pusing mengerjakan ini, mengerjakan itu, belajar ini, belajar itu. Sementara aku, harus bekerja sekadar untuk membiayai obat ibuku setiap bulan, membiayai adikku yang masih sekolah. Sedangkan, jika aku tidak peduli dengan kuliah, darimana aku membiayai kuliahku kalau bukan dari beasiswa. Namun terkadang, kerumitan itu menjadi sangat sederhana, jika aku bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. 

"Anak muda jaman sekarang ini memang enak hidupnya"

"Ah, opa pasti mau nasehati ya?"

"Ah, kamu memang suka besar kepala. Maksud opa, dulu waktu aku masih sekolah, mana ada buku catatan yang bisa disimpan? Adanya sabak, batu yang biasanya sekali tulis, hapus, sekali tulis, hapus lagi, itulah kenapa ingatan opa sampai sekarang masih bagus. Bukan kayak kamu, masih muda tapi sudah lekas pikun"

"Pikun?", tanyaku.

"Lupakan! opa juga lupa. Dulu, setiap hari Jum'at itu hari yang menyenangkan. Soalnya, kita diajarin nyanyi, kayak lagu Gundhul Gundhul Pacul misalnya...", ia diam sejenak, lalu mulai bergumam dan menyanyikan lagu itu.

Gundhul-gundhul pacul cul
Gemblelengan
Nyunggi-nyunggi wakul kul
Gemblelengan
Wakul ngglimpang, segane dadi ....

"Opa dulu anak mana?", aku memotong senandungnya.

"Dulu opa anak Skid!"

"Apa itu Skid, opa?"

"Itu nama daerah di dekat Tugu Pahlawan sana, di daerah Tembaan, dulu opa suka sekali numpang trem, gandholan bareng teman-teman, kalau turun loncat dari trem"

"Wah, seperti apa ya wujudnya trem, aku pingin ke Belanda opa, siapa tahu disana masih ada trem"

Aku suka menanyainya dengan kata-kata 'dulu'. Baginya, dulu adalah sebuah kenangan dimana dalam hidupnya ia pernah menjadi sosok orang yang luar biasa. Sama sepertiku, aku menikmati dulu sebagai orang yang luar biasa bahagia. Tapi opa memang benar, aku bukanlah orang yang pantas untuk mengeluh tanpa mensyukuri. Seandainya opa memang benar-benar ada. Aku menyukai kesederhanaannya dan kekanak-kanakannya dalam bercerita.

(Untuk kedua kakekku di surga, jika kalian masih hidup, aku akan bertanya apapun tentang 'dulu', dulu aku hanya anak kecil yang belum memikirkan alur hidup yang berliku)

Perjalanan Pulang


weheartit



(13 Oktober 2010)

Nyaliku naik turun di ambang petang

Belaian mendung tak urung melaju dalam pandang
Sering aku bertanya pada sore ‘tuk pastikan
Mengapa pohon-pohon itu berlarian mengejar
Mengapa burung-burung itu terbang dalam bayangan
Mengapa angin-angin itu menghindari celah-celah menganga lebar
Sedangkan aku melaju kencang bersama lampu-lampu desa
Berkejaran sampai ke kota