4.11.13

Where The Wild Creatures Are


Dulu teman saya ada yang pernah bilang kalau dia ingin naik jerapah. Saya kira itu merupakan ide yang amat koplak, namun kini saya paham apa yang dia rasakan. Saya sendiri juga bingung mengapa saya benar-benar suka jerapah. Menurut saya mereka adalah makhluk yang cantik sekaligus kuat. Waktu kecil saya pernah membaca bahwa dua kaki depan jerapah dapat meremukkan sehelai singa. Kadang saya seringkali bermimpi sedang berada di padang sabana yang luas di sore hari. Mungkin suatu hari nanti cita-cita saya ke Afrika akan segera terlaksana (ahahahaha). Baru-baru ini di TV ada iklan minuman bersoda yang mengadakan kuis liburan ke Afrika, dan saya akan ikut berpartisipasi, doakan ya. 

Sebenarnya saya membuat posting-an kali ini bukan cuma karena saya rindu jerapah. FYI, jerapah di atas adalah jerapah di KBS yang saya foto pada akhir tahun 2010. Waktu itu saya baru membeli kamera dan sedang impulsif dan ingin lihat jerapah. Sayang bertrilyun-trilyun sayang, semua file foto di KBS pada hari itu hilang karena corrupt. :( Semua foto di posting-an ini saja yang tersisa. Di KBS-pun kini sudah tidak ada jerapah, sejak jerapah terakhir mereka telah berpulang akibat keracunan. Kutitipkan salammu nak jika suatu saat hamba ke Afrika. Mungkin sudah banyak orang yang bercerita tentang Kebun Binatang Surabaya, semua yang buruk. :(

Meskipun sejak kecil saya senang berkunjung ke kebun binatang, kadang ada perasaan semacam sudden sad ketika melihat mereka terperangkap di dalam kandang. Hal yang paling saya takuti biasanya ketika ada gajah marah sambil meraung-raung dan mungkin terdengar sambil menggebrak-gebrak kandangnya yang besar. Setelah berbagai kasus Kebun Binatang dan semakin beredar luas di media tentang penyiksaan terhadap berbagai macam hewan. Entah kapan saya akan berkunjung ke kebun binatang lagi, bahkan saya mulai berpikir kearah apakah kebun binatang itu, tempat penyimpanan binatang itu adalah tempat yang ber-peri kehewan-an. Bahkan di luar sana banyak orang yang menyiksa hewan demi mengepulnya dapur mereka, seperti dulu saya pernah nge-twit "Some people do harsh thing for a living". Contohnya mencabuti bulu angsa untuk bantal, tapi angsa-nya dibiarkan hidup setelah bulunya dicabuti, ada pula gajah yang dibunuh demi diambil gadingnya. Why people, why? Ada juga yang mengumpat-umpat di twitter, mengutuki, dan semua pisuhan dari A sampai Z keluar setelah melihat hal semacam itu. Tapi kayaknya percuma juga. Kadang saya menyadari, sejahat-jahatnya hewan buas, manusia bisa jadi jauh lebih ganas. Kadang saya-pun fantasizing, bahwa orang-orang yang menyiksa hewan itu, suatu saat di akhirat bakal dipertemukan sama hewan-hewan yang pernah mereka siksa (mohon berikan pengecualian terhadap kami yang menyiksa nyamuk dengan mengoleskan autan maupun menyemprot baygon). 



27.10.13

Sekuel Zine Turis Kecetit: Turis Nebeng #2

beberapa zine yang dirampok dari zine picnic #3 pagi ini. (turis nebeng #2 oleh maya+saya, bike oleh mbak Anitha Silvia, Brielle #2 oleh Adrea+Gita, serta Ingustrasi #2 oleh mas Rici)
Akhirnya Zine Picnic #3 kembali digelar di Jalan Raya Darmo, Surabaya di tengah riuh dan asiknya Car Free Day. Sambil menggelar lapak, membaca zine, dan mamam mamam roti, saling berkenalan dan melirik anjing-anjing unyu sedang jalan sehat (beserta pemiliknya yang unyu). Sebenarnya pagi ini lupa membawa kamera dan hp saya sedang sakaratul maut memory card-nya, jadi ga sempet fotoin lapak yang banyak zine bergizi-nya. Yang paling berkesan dari beberapa zine yang saya baca on the spot, tadi ada zine dari Pontianak (lupa judulnya) yang keren dan lucu bahasannya, jadi pengen baca lagi (belum selesai baca).

Tadi ketika menggelar lapak, banyak orang yang menanyakan pada kami tentang zine yang digelar serta apa itu zine. Kemudian mbak Tinta menjawabnya dengan diplomatis hehe. Awalnya saya baru tahu tentang zine ya sejak mengenal C2O library, sebelumnya sih menganggap zine itu identik dengan punk zine, underground (mungkin masih ada orang yang beranggapan demikian). Tapi, seperti yang mas Rici bilang tadi, padahal zine di luar lebih banyak dibikin oleh kaum weirdo. Tapi di luar mungkin zine itu hampir sama kayak disini yang akrab dan identik dengan kaum pustakawan dan tentunya mengusung semangat do-it-yourself. Kayaknya sih mayoritas-nya lebih ke art-zine dan literature. Buat yang masih belum familiar dan wondering, zine iku opo seh. Zine itu kayak self-published magazine, tapi versi sederhananya magazine, dimana kita bisa menyebarkan informasi secara bebas, kreatif serta menyebarkannya secara mandiri. Selain itu zine biasa diproduksi dengan cara di-foto kopi, tapi nggak harus sih, banyak juga yang lebih mutakhir. Konten dari zine nggak melulu tentang tulisan tapi juga ilustrasi atau gambar-gambar lucu, infografis, dan lain sebagainya. Kalau jenis konten-nya bisa jadi luas banget dan bisa mencakup apa saja, bisa juga yang berasal dari keseharian kita atau mungkin kritik sosial? Jadi yang underground nggak selalu identik dengan punk kok, hehe. Mungkin Turis Kecetit juga underground kalau turis-nya mberangkang di gorong-gorong. *oke mulai ga fokus*

Sedangkan zine kami sendiri lebih ringan dan menghibur (semoga), kami ingin menunjukkan tentang segala hal yang unik di jalan, terutama tulisan-tulisan dekat lampu merah, jidat truk, bemo, dan lain sebagainya. Yak, sekian berbagi tentang apa itu zine, semoga barokah. Sampai jumpa di lain kesempatan. 

21.10.13

A Bitten Butter Cookie and Tea


Ini sih bukan buat sarapan, karena cuma mampu mengganjal lambung bagian pojokan pula. Tapi harus saya akui, lumayan enak untuk pagi yang masih suci karena belum ternodai siksaan panas Surabaya yang menyengsarakan. Beberapa menit kemudian setelah sarapan yang elegan: ma'em sego, sambel, tempe goreng, endhog goreng, sayur asem. FAIL! Hahaha.. Entah mengapa mungkin bagi kebanyakan orang, sarapan itu harus yang nasinya kemebul dan ikan yang banyak, makan dengan lekoh. Tapi ada juga sih yang tiba-tiba update di media sosial menampakkan sejumput roti dan selai ala sarapan di sinetron layar kaca. Saya sih fleksibel kayak produk pohon kelapa *ngomong opo sih*. Jadi saya suka banget sama blog Simply Breakfast yang punya konsep simpel, foto menu sarapan sehari-hari. Kalo dibikin project sarapan Indonesia pasti keren banget, sampai nasi panas diuyahi atau nasi kecap telor ceplok ikut dimasukin, hehe. 

*Saya amat menyukai dua menu terakhir yang di atas. Jadi ini fotonya udah elegan tapi bahasannya kok ya kurang mencermikan. :))