Tampilkan postingan dengan label feelings. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feelings. Tampilkan semua postingan

8.2.17

Ciri-ciri Orang Introvert


"Nanti siang kita ada acara makan-makan di kantor sebelah, ikut yuk"
"Ngg.. sorry nih, ada acara kayaknya"

Reality: pulang, nonton film / baca buku

Siapa yang sering banget seperti ini? Meskipun dalam pergaulan dengan teman-teman kadang saya dikenal asal nyablak/ njeplak, dari lubuk hati yang terdalam (ceilah) sebenarnya saya orangnya pendiam. Tapi introvert itu bukan berarti pendiam sih. Introvert bisa jadi orang yang suka menghabiskan waktunya sendirian. Kalau saya pribadi sih suka keramaian, misalnya suka heboh kalau ketemu banyak teman. Tetapi saya juga suka sekali menyendiri. Apakah kamu termasuk orang introvert seperti saya juga? Berikut beberapa poin yang saya kutip dari Huffington Post:

1. Nggak suka obrolan basa-basi. Ini biasanya terjadi pada saat awkward moment ya, saya sering mengalaminya ketika ngobrol sama  orang yang lebih tua atau orang asing yang lagi nungguin hal bareng. Misalnya di ruang tunggu rumah sakit, nungguin bakul rujak, nungguin permak jins, haha momennya gak elit banget ye. Tetapi kalau sama orang yang seumuran saya jarang ngalamin hal kayak gini, kecuali sama cowok. Iya, saya kan tipikal remaja pemalu dan menjaga sopan santun dalam adab bergaul, hahaha. Tapi tergantung cowoknya juga, kalau orangnya agak nyablak, biasanya ya kebawa. 

2. You often feel alone in a crowd. Ini sering banget terjadi, misalnya kita lagi heboh kumpul bareng temen-temen lama misalnya. All of sudden, tiba-tiba jadi ngerasa sendirian ditengah gelak tawa. Kadang juga pengen tiba-tiba ngibrit aja gitu. Apalagi ketika kita udah nggak interest sama yang lagi mereka bahas. Yah, kadang seputar pertanyaan-pertanyaan klise gitu. Ada satu momen lagi yang bisa bikin kita ngerasain hal kayak gini: nonton konser band yang liriknya bikin galau. 

3. Menjaga jaringan pertemanan demi tujuan tertentu. Misalnya nih, kita harus jaga hubungan kita sama seseorang supaya karir kita aman-aman aja. Itu menyiksa banget buat kaum introvert, penuh dengan kepalsuan lah istilahnya ya ujung-ujungnya. Mungkin pernah sih ngalamin sekali dua kali. 

4. You’ve been called “too intense.” Kadang suka aja ngobrol yang aneh-aneh yang jarang banget dibahas sama orang pada umumnya. Suka nonton film atau membaca buku yang bikin mikir? Sejauh ini film favorit yang bisa bikin nangis termehek-mehek adalah "Eternal Sunshine of the Spotless Mind" (2004). Saya butuh dua kali nonton film itu sampai bener-bener memahami maksud dan tujuannya. Trus baru sadar, gimana ya rasanya ketika kita sakit hati sama seseorang dan pengen menghapusnya dari ingatan kita. Saya juga suka banget sama camera movement-nya yang slow, kehidupan yang sepi dan dingin. Kapan-kapan boleh deh saya bahas film ini di blog ya. 

5. Suka menghabiskan waktu senggang sendirian. Nggak bosen di rumah sendirian sambil minum kopi/ teh dan baca buku. Bagi introvert, ini yang dinamakan ngisi baterai biar kembali segar dan bugar. Nggak cuman di tempat yang sepi, kadang saya sering banget pergi ke mall sendirian. Terkadang bersepeda sendirian ke car free day atau sekedar duduk sambil dengerin musik lewat HP di Taman Ekspresi di tepi Golden River alias Kalimas. Banyak orang yang heran kalau saya menceritakan hal tersebut "Kok bisa sih?". Saya terbiasa banget kemana-mana sendirian and pretty much enjoy it. Tapi saya tetep butuh pendamping hidup lhooooo. Hahaha.

6. You have a constantly running inner monologue. “Extroverts don’t have the same internal talking as we do,” says Olsen Laney. “Most introverts need to think first and talk later.” Di waktu kita nungguin sesuatu, misalnya di ruang tunggu atau nunggu ayam di KFC, nunggu antri pentol colek, terkadang saya suka memperhatikan sekeliling sambil ngomong sendiri di dalam kepala saya sendiri. It's kinda weird, I know.

7. Low blood pressure. A 2006 Japanese study found that introverts tend to have lower blood pressure than their extroverted counterparts. Interesting fact! Saya juga mengalami darah rendah lho, kalau pas lagi rendah banget bikin sedih, bisa sampai keringat dingin dan muntah-muntah. 

8. You're a writer! seseorang bisa berfikir sangat kreatif ketika mereka lagi sendirian. Selain itu, juga lebih enak berkomunikasi lewat tulisan dibandingkan ketemu langsung. Terkadang saya nggak punya teman yang enak atau pas untuk diajak ngobrol tentang topik tertentu, bisa jadi tiba-tiba ga nemu aja gitu. Akhirnya saya lebih sering menuangkannya lewat jurnal/ buku harian (yes, I'm still writing journal!) dan blog. 

Untuk bacaan lebih lanjut serta fun facts mengenai introvert bisa kalian baca di sini.

6.9.15

Still on September




Baru beberapa bulan, apapun yang terjadi diantara kami. Biarlah itu terjadi, dan biarlah menjadi yang terbaik. Terkadang kita terlalu memaksa apapun sesuai dengan ekspektasi dan harapan kita. Padahal paksaan itu belum tentu jalan satu-satunya yang terbaik. Terkadang ketika kita memutuskan untuk berhenti di satu titik, kita tidak sadar bahwa sesuatu yang lebih baik akan segera datang ketika kita menjemputnya. Bukan berhenti. Di titik ini saya berusaha untuk bergerak maju, meskipun rasanya berat untuk meninggalkan letupan kecil yang mulai ikut menjauh. Tapi ada sebuah pita merah terbentang di depan sana, seusai saya berusaha berperang dengan diri saya sendiri untuk saat ini. 

Ada mimpi-mimpi yang selalu gagal terwujud, dan saat ini saya merasa harus menyegerakannya. Sehingga saya mencoba menggunting tali-tali yang menahan dan menjerat saya agar tidak bergerak menjemput mimpi itu. Satu per satu, perlahan-lahan saya berusaha menjadi seseorang yang baru, serta memperbarui sudut pandang akan hal-hal yang ada di sekitar saya. Setiap orang punya kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

I was flying so high, everything was seems like too witty now. Instead of choosing hot air balloon, I prefer the stair, because the way to go down (in case I fall someday) wouldn't be that bad, I just need to turn my body around, going down, turn again and step up. 

30.3.14

Vague, Obscure, Whatever



Lately, I feel so empty. No dream. Hazy.

I found myself lying down a prairie. Runaway from a tiring daily routine. Waking up on 5 a clock and I remind the sun that the morning comes early for me as usual. Ah, I'm just smashed down by boring days and realities. That's all. I'm young but there are many things that I have to know earlier than anyone in my age, take a good care of everything in my family. This is how it feels to be a backbone. I've tried  it all when I was in college. Now I'm facing the real one.

My father's condition is quite unwell lately, but thank god his new doctor reduce the dosage of his medicine and he's recovering now. The previous doctor gave excessive medication. When you have very (literally) old parents, you've got to be ready that they will leave you step by step. They won't speak clearly again, they are addicted to doctor's prescriptions (they're all expensive, pfftt..), they move very slowly, they won't remember where the last time they put their glasses, their hands are shaking when  hungry, memory loss, etc. All I heard in my young years are old people dying in doctor's waiting room because they told me stories about aging associated diseases such  diabetes, cardiovascular disease, hypertension...That's never been easy to me, people you love the most are fighting against disease and still.. financial problem.

Recently I met new wonderful people from my new office. They told me stories about how they fought from the dark for the sake of "Hold on, we won't be starve to death tomorrow". They told me that young years are meant to be a battlefield to be what we want. Some of them told me to enjoy my youth, or it'll pass quickly as a snap. My biggest fear is getting old to soon. Weird. Since everyone's heading to the time where the sky will be no longer blue and clear.

The responsibilities changed my point of view about life and the future. It's greater than before, but I know, I just want to be a good kid to my parents. They sacrifice everything for me, and I have to do the same. What am I without them. Every day on our way to work, My superior and I, we often laugh in the car about how hard life is. That's just our way to express funny and stupid things behind the sadness. Because one day, we still laugh it off, the struggle we won't forget. All we need is patience. But I know one thing, God is always kind and generous to us. Then, how long can we run? Because we've got to run. I'm 22 and I don't want to waste my young years.

Meanwhile, I have something for you. Yes, my kind of special 'you' out there, tell me that we're running horizontally right now, to find each other. This is my favorite song for you:

8.2.14

Peta Dunia di Dinding Kamarku



Hari ini kau terlihat kedinginan. Beruntung aku tak melekatkanmu pada sisi dinding yang biasanya bocor. Beberapa bulan yang lalu kau kurobek dari kawananmu. Hanya karena kau meniru rupa kulit bumi dari ketinggian Tuhan barangkali. Aku belum pernah menodaimu. Jika kupanjangkan garis lintangmu satu persatu, dinding kamarku jadi kotor. Lagipula buat apa aku melakukan itu. Aku hanya tak tau harus mengatakan apa padamu. Permukaanmu yang bergelombang meniru laut di tubuhmu.

Jika hari itu tiba. Aku memulai perjalanan dari garis sisi timur. Garis itu yang membelahmu jadi dua. Dari sana aku ingin ke barat laut. Jika langit akan mementaskan cahaya utara, aku akan duduk manis tanpa berkata-kata. Maka aku menekan ujung jariku di atas tubuh kertasmu ke barat laut.

Lalu kumundurkan lagi langkah jariku ke selatan. Tadi aku telah khilaf, lupa akan kewajiban mengantar orang tuaku ke tempat ini. Kurebahkan jariku di tenggara Laut Tengah. Sejenak kupejamkan mataku. Kubayangkan air muka ayah dan ibuku. Kuharap kerutan di wajah mereka masih tetap sama saat kami tiba disana.

Dari sana aku kembali ke barat laut lagi. Kubayangkan sebuah gedung tinggi memayungi keningku. Entah untuk melindungku dari apa, karena matahari sedang tak menempel di langit. Kupejamkan lagi mataku yang sudah terpejam. Rambutku tersibak oleh langkah orang-orang yang berbicara dengan suara udara di tenggorokannya. Kubuka perlahan mataku di dalam imajinasi itu. Ada hamparan kecil bunga warna-warni. Bunga yang sudah lama ingin kusentuh.

Ujung telunjukku tiba-tiba terseret ke barat daya. Bau menyengat tersedot ke dalam hidungku seketika. Aku suka bau rumput kering. Mataku masih terpejam namun kakiku tak menginjak tanah. Aku terus menggerakkannya namun tak ada apa-apa dibawah telapak kakiku. Kuraih apapun yang ada di depanku. Kulingkarkan lenganku pada benda itu. Nampaknya ia berdenyut lamat-lamat. Kubuka mataku dalam imajinasi itu. Aku sedang menunggang hewan yang tinggi dengan bercak coklat di kulitnya. Aku naik jerapah! Dedaunan akasia tiba-tiba ikut menggerayangi wajahku. Padang coklat keemasan yang luas sedang mengawasiku dengan lembut.

Kuhela nafasku sejenak, aku rindu rusa-rusa di rumahku. Telunjukku terduduk sebentar. Ia mengembangkan layar sebentar sambil mengikuti arus Samudra Atlantik. Ia terdampar di bawah bayang dedaunan. Mereka mengusik mataku yang terpejam. Kubuka mataku perlahan. Kulihat sekeliling. Aku berada di rumah. Sebelum kembali ke barat laut, kusandarkan telunjukku sejenak. Kemudian ia mulai berkeliling pekarangan rumah, Indonesia.

Untuk peta dunia di kamarku. Aku akan kembali ke barat laut sambil membawamu. Hanya saja kali ini aku akan membawa peta lain. Peta rumahku sendiri.

4.11.13

Where The Wild Creatures Are


Dulu teman saya ada yang pernah bilang kalau dia ingin naik jerapah. Saya kira itu merupakan ide yang amat koplak, namun kini saya paham apa yang dia rasakan. Saya sendiri juga bingung mengapa saya benar-benar suka jerapah. Menurut saya mereka adalah makhluk yang cantik sekaligus kuat. Waktu kecil saya pernah membaca bahwa dua kaki depan jerapah dapat meremukkan sehelai singa. Kadang saya seringkali bermimpi sedang berada di padang sabana yang luas di sore hari. Mungkin suatu hari nanti cita-cita saya ke Afrika akan segera terlaksana (ahahahaha). Baru-baru ini di TV ada iklan minuman bersoda yang mengadakan kuis liburan ke Afrika, dan saya akan ikut berpartisipasi, doakan ya. 

Sebenarnya saya membuat posting-an kali ini bukan cuma karena saya rindu jerapah. FYI, jerapah di atas adalah jerapah di KBS yang saya foto pada akhir tahun 2010. Waktu itu saya baru membeli kamera dan sedang impulsif dan ingin lihat jerapah. Sayang bertrilyun-trilyun sayang, semua file foto di KBS pada hari itu hilang karena corrupt. :( Semua foto di posting-an ini saja yang tersisa. Di KBS-pun kini sudah tidak ada jerapah, sejak jerapah terakhir mereka telah berpulang akibat keracunan. Kutitipkan salammu nak jika suatu saat hamba ke Afrika. Mungkin sudah banyak orang yang bercerita tentang Kebun Binatang Surabaya, semua yang buruk. :(

Meskipun sejak kecil saya senang berkunjung ke kebun binatang, kadang ada perasaan semacam sudden sad ketika melihat mereka terperangkap di dalam kandang. Hal yang paling saya takuti biasanya ketika ada gajah marah sambil meraung-raung dan mungkin terdengar sambil menggebrak-gebrak kandangnya yang besar. Setelah berbagai kasus Kebun Binatang dan semakin beredar luas di media tentang penyiksaan terhadap berbagai macam hewan. Entah kapan saya akan berkunjung ke kebun binatang lagi, bahkan saya mulai berpikir kearah apakah kebun binatang itu, tempat penyimpanan binatang itu adalah tempat yang ber-peri kehewan-an. Bahkan di luar sana banyak orang yang menyiksa hewan demi mengepulnya dapur mereka, seperti dulu saya pernah nge-twit "Some people do harsh thing for a living". Contohnya mencabuti bulu angsa untuk bantal, tapi angsa-nya dibiarkan hidup setelah bulunya dicabuti, ada pula gajah yang dibunuh demi diambil gadingnya. Why people, why? Ada juga yang mengumpat-umpat di twitter, mengutuki, dan semua pisuhan dari A sampai Z keluar setelah melihat hal semacam itu. Tapi kayaknya percuma juga. Kadang saya menyadari, sejahat-jahatnya hewan buas, manusia bisa jadi jauh lebih ganas. Kadang saya-pun fantasizing, bahwa orang-orang yang menyiksa hewan itu, suatu saat di akhirat bakal dipertemukan sama hewan-hewan yang pernah mereka siksa (mohon berikan pengecualian terhadap kami yang menyiksa nyamuk dengan mengoleskan autan maupun menyemprot baygon). 



21.10.13

A Bitten Butter Cookie and Tea


Ini sih bukan buat sarapan, karena cuma mampu mengganjal lambung bagian pojokan pula. Tapi harus saya akui, lumayan enak untuk pagi yang masih suci karena belum ternodai siksaan panas Surabaya yang menyengsarakan. Beberapa menit kemudian setelah sarapan yang elegan: ma'em sego, sambel, tempe goreng, endhog goreng, sayur asem. FAIL! Hahaha.. Entah mengapa mungkin bagi kebanyakan orang, sarapan itu harus yang nasinya kemebul dan ikan yang banyak, makan dengan lekoh. Tapi ada juga sih yang tiba-tiba update di media sosial menampakkan sejumput roti dan selai ala sarapan di sinetron layar kaca. Saya sih fleksibel kayak produk pohon kelapa *ngomong opo sih*. Jadi saya suka banget sama blog Simply Breakfast yang punya konsep simpel, foto menu sarapan sehari-hari. Kalo dibikin project sarapan Indonesia pasti keren banget, sampai nasi panas diuyahi atau nasi kecap telor ceplok ikut dimasukin, hehe. 

*Saya amat menyukai dua menu terakhir yang di atas. Jadi ini fotonya udah elegan tapi bahasannya kok ya kurang mencermikan. :))

19.10.13

Instead of Being Decayed

artificial sun
Kehilangan diri selama beberapa hari. Iya, ada banyak hal yang tiba-tiba membangunkanku, dan puncaknya adalah hari ini. Kemarin sore mencoba menikmati waktu sendirian mendengarkan beberapa lagu sampai senja permisi mau lewat. Secara umum, kondisi kejiwaan memang sedang agak labil. Berawal dari tepat seminggu yang lalu ibu sakit, serta terjadi-nya percekcokan antara orang tua dan saya, sehingga saya merasa tertampar dan terlihat agak gelisah dan kalut. Kejadian yang membuat saya berpikir "I want my youth!" ketika kamu merasa semua itu terampas karena harus memberi ekstra perhatian kepada orang tua yang telah lanjut usia. Selanjutnya, setelah sehari dua hari ber-hak mendapatkan hal itu dengan mengesampingkan keadaan mereka, tiba-tiba semua jenis makhluk mulai dari astral sampai mikroorganisme memelototimu karena bertindak amat egois. I'm young, they're old, I like festivities, they want peace. Walaupun aku sendiri kadang berpikir, bahwa apapun masalahku, aku bertahan hidup untuk mereka, bukan hanya untuk diriku sendiri. 

Hal yang bikin resah selanjutnya adalah soal pekerjaan dan keinginan yang amat besar untuk mencoba beasiswa S2. Hal ini akibat melihat beberapa brosur beasiswa terpampang di beberapa booth saat beberapa hari yang lalu saya pergi ke job fair, so tempting. Dan sekarang khawatir akan masa depan. Perasaan jadi makin campur aduk ketika harus merasa jengkel dengan seseorang yang selama ini sudah cukup banyak melukai, tapi pada akhirnya merasa ya sudahlah mungkin saya terlalu sensitif. Kemudian semuanya meledak pada suatu waktu dan kembali saya merasa harus tetap diam dan pura-pura tidak peduli (kecuali mangkel di twitter hoooh!). FYI, be careful with your attitude, girl. You may hurt me, trying to prove that you are always right. It's not your life, you can't judge just because it seems like I do the wrong thing. There are million things you don't even know about me, since you're not my mother. If you want to be the only one who always do the right things, go try defeat God now! 

Dan ketika harus menghadapi 'makroorganisme' yang suka 'play ribet'. Duh, masih ada ya?

Memang akhir-akhir ini merasa mangkel dengan berbagai alasan. Tapi biasanya sih cuma sesaat saja. Sebentar saja juga sudah mencoba tidak peduli. Oya, oya, oya... Meskipun kepo itu kadang memiliki relasi yang amat dekat dengan perasaan negatif, tersakiti, dan lain sebagainya. Tiba-tiba sore ini tadi saya merasakan kepo yang bermanfaat yang membuat saya berpikir sedikit optimis demi masa depan. Ada banyak orang-orang hebat membuatmu yang biasanya sok hebat tiba-tiba merasa kecil. 

Selain itu, kini saya dan ayahanda sedang galak-galaknya mencanangkan gerakan "Jalan Kaki Setiap Pagi Dari Rumah Ke Mana-Mana Sak-Kesel-E" hal ini dilakukan demi menumbuhkan jiwa yang sehat serta pikiran yang jernih. Tempat yang paling saya suka adalah ketika lewat depan kecamatan Sukomanunggal, ada pohon-pohon teduh di tempat nyegat bemo WL. Sedari SD saya menyukai tempat itu meskipun dulunya lebih bagus karena masih banyak rerumputan dan pohonnya. Mungkin setannya juga banyak.

*And the simple thing is: I want to be better than this, I can. 
Sorry for the people that meet the worse version of me or my attitude :( Or me in unstable condition. I don't know if I'm too late on searching of the real me. Thank you for some particular friends that believe in me or just write two words for me, like "Stay humble". The people that know a little part of the real me and support me.