Tampilkan postingan dengan label antara fiksi dan tidak fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antara fiksi dan tidak fiksi. Tampilkan semua postingan

13.1.13

Aven x Prionsa

                                       
Setiap orang punya cerita masa kecil yang super polos, manis, dan pasti sulit terlupakan. Begitu pula denganku, ketika masih hidup di bawah pohon mangga yang rimbun dan dikutuk untuk jadi produktif berbuah. Suatu sore yang bahagia, aku sedang asyik diterpa angin sepoi sambil tiduran di bawah pohon. Tiba-tiba terdengar ribut suara para remaja kampung yang saling adu kaki di tengah gang lengkap dengan suara gedebak gedebuk bola. 

"Ja**ok" mbeleset c*k", jackpot mantap semakin membangunkanku.

Sang pembuat kata-kata manja itu menyadari kekagetanku. Dengan senyum merekah ia melirikkan matanya pada anak laki-laki yang berdiri canggung di sampingnya. Tidak lupa dengan gerakan alis yang naik turun macam orang yang memperbaiki genteng tapi tiba-tiba kebelet pipis saat di atas. 

"Feh! Eh, ada yang mau kenalan lho!", teriak Joni.

Hari itu pertama kali melihat Prionsa. Nama aslinya sangat dingin seperti sebuah negara di utara Irlandia, ia sangat berkorelasi dengan es. Paras yang sangat jarang ditemukan di kampung bersawah awal abad 20. Wajahnya lebih manis dari es wawan rasa soklat, bertolak belakang limapuluh kilometer dari paras Joni. Umurku baru sewindu dapat bonus 12 bulan, tapi rasanya baru aku yang mengalami ini. Setiap keluar rumah selalu melirik ke rumah tetangga baru itu. Kadang kami berbagi aktivitas bersama, mengantri bakso di malam hari, bersepeda bersama, berjumpa di toko kelontong juga. Kadang aku melihatnya duduk-duduk sambil menyanyi diiringi gitar kakak Joni dikelilingi anak laki-laki lainnya. Karena keseringan bermain sama Joni, aku jadi jarang main lagi gara-gara malu ada Prionsa. Joni adalah perwakilan mulut super besar yang suka menggojloki sampai muka korbannya merah kebiruan tanpa kekerasan. Pernah juga ketika Prionsa duduk-duduk dengan Joni lalu melemparku dengan kerikil sehingga aku menoleh ke arahnya. 

Kami masih belum bicara satu sama lain, sampai suatu ketika ada sepucuk surat beramplop airmail merah dan biru duduk manis di bangku kelasku. Kubuka pelan-pelan sambil waspada, takut isinya surat panggilan orang tua atau tagihan ongotan yang baru kubeli kredit sama Fida. ternyata isinya hanya selembar kertas epek-epek dengan tulisan kruwel-kruwel yang jelek tapi sangat lucu. Kubaca habis surat itu sehingga di akhir surat itu ada tulisan besar-besar: "I Love You, Ofe!. Salam manis, Prionsa".Ya, di jaman itu masih belum musim salam model xoxo. Wajahku tak kuat menahan debuman jantung yang sedang tidak umum. Dari kejauhan terdengar suara kikik-an Yanto, dengan senyum selebar senyum kuda ia mendekatiku.

"Cieeeeee.... Ofe"
"Kamu kok tau aku kenal Prionsa? Atau jangan-jangan ini kamu yang nulis ya?"
"Cuih, ngapain aku lope-lope sama kamu? Prionsa 'kan teman ngaji-ku? Kalau butuh jasa surat-menyurat, hubungi aku ya, biaya-nya bisa pakai apa aja, es wawan, tahu isi, es teh, bakso, sate usus, terserah deh", ujarnya sambil mengedipkan mata.

Sejak saat itu, kurir cinta sudah aktif melaksanakan tugas-tugasnya. Lama-kelamaan aku dan Prionsa semakin sering terlihat ngobrol bersama di emperan rumahnya, main-main dengan adiknya, juga kenalan dengan ibunya. Aku dibawa ke kamarnya juga, jangan salah, cuma buat belajar IPS kok, yakin deh. Prionsa ternyata tidak begitu humoris, ia anak yang memang keren, kalau jaman sekarang boleh lah mukanya di mirip-kan sama Elijah Wood. Tapi di balik kekerenannya, ia biasa saja, ya romantis juga boleh. Sampai di suatu Rabu sore seorang makhluk lagi datang dan Joni mulai berkoar-koar lagi.

"Iku ta areke, Ven?"

Sore itu aku sedang lewat di depan rumah Joni setelah disuruh beli minyak tanah. Ada seorang anak lagi dengan wajah yang tidak kukenal. Senyumannya terlalu murah untuk diumbar-umbar. Selama beberapa hari setelahnya, Prionsa entah menghilang kemana. Aven jadi sering berkeliaran sambil kami bersepeda bersama. Ia juga akhirnya akrab dengan anak-anak di kampung sambil bermain bola, dan main gitar bersama Joni dan kakaknya. Tiada perkenalan yang sangat resmi dengan Aven. Hanya saja, ia sangat mudah membuatku tertawa. Entah memuji atau setengah meledek, kalau aku sedang ngambek, dia akan menjulukiku mirip Sherina. Waktu itu sedang naik daun naik pohon sebuah film berjudul "Petualangan Sherina". Kami jadi sering menghabiskan waktu bersama. Kadang aku duduk-duduk, lalu Aven main burung dara punya Joni (nah ya, apalah itu), memanjat pagupon di atas rumah Joni.

"Kamu rangking berapa sih Ven di sekolah?"
"Rangking satu dong"
"Beneran? Anak kayak kamu?"
"Gak percaya? Tanya mamaku dong!"
"Gak mungkin"
"Yaudah ga percaya, kamu rangking berapa di sekolah?"
"Rangking lima"

Menyenangkan juga bersama Aven, ia sangat lucu. Sering berdebat-debat manja juga, euwwwh pletasss! Lalu aku lupa ada Prionsa. Suatu hari, Joni datang dengan muka datar tanpa ekspresi, sebuah pertanda akan terjadi bencana alam. 

"Kamu kok jadi deket Aven? Kamu suka Aven ya?"
"Enggak, kenapa?"
"Kamu pilih mana? Aven apa Prionsa?"

Aku berpikir keras, ini pertanyaan yang sangat kontemplatif dan amat kompleks. Sulit untuk diungkapkan.

"Err... Aku juga suka Aven"
Angin bahorok berputar-putar pada wajah Joni. Selanjutnya sudah jelas apa yang terjadi, ia datang ke Prionsa sambil mendobrak pintu.
"Lapor komandan"
"Ya, ada apa"
"Ternyata Ofe juga menyukai Aven, komandan"
"Timak dungkin! Tidak mungkin"

Beberapa menit kemudian Komandan Prionsa membanting kursi dan meja sambil menyabet gelas dan piring ke tembok. Selanjutnya disambut jeweran kuping oleh ibunya. Sejak hari itu, Yanto tidak memberi kabar apa-apa selain sepucuk surat terakhir dari Prionsa yang berisi salam perpisahan. Kemudian lagu dari Rhoma Irama berjudul Malam Terakhir menjadi soundtrack resmi peristiwa tersebut.

Aven ternyata harus segera pergi sementara dengan sekuat tenaga aku memohon maaf pada Prionsa. Ternyata Prionsa memilih gadis lain yang lebih kalem dan baik-baik dibanding aku yang hobi bersepeda dan sering jatuh, bundas terlunta-lunta. Tapi Aven adalah cerminan lelaki yang sangat lucu, cerdas, dan gagal pikir. Sangat bertolak belakang dengan Prionsa yang serius, meski tampan. Prionsa menjalin tali asmara dengan yang lain, Aven pergi. Hari kepergian Aven adalah tepat ketika ia menaikkan barang-barangnya ke mobil diikuti dengan dirinya sendiri. Kemudian kepalaku terpaku pada kaca nako ketika radio sedang memutar lagu Ari Lasso berjudul Hampa. Yah, akhirnya melepas Prionsa dan Aven. Dua orang yang sangat berbeda namun sangat berwarna. Sekarang kalian pasti sudah dewasa, dan prediksi Ofe menyatakan bahwa Aven akan tumbuh berkembang dengan paras seperti James Franco, selanjutnya Prionsa akan sangat tampan seperti Jonathan Bennett atau Reuben Elishama juga boleh.

26.11.12

Orkes!



Gang buntu, pelan-pelan banyak anak kecil. Begitulah kalimat buntu yang tercantum pada ujung gang, memberi kode pada pendatang agar masuk dan keluar seperti kentut, pelan-pelan datang dan hilang. Apakah penduduk gang ini butuh ketenangan? Pertanyaan itu tidak perlu di jawab ketika orang melihat empat helai manusia dekil sedang kecantol di baduk-an depan gardu listrik. Mereka berkumpul sambil melatih mulut mereka, adegannya hampir mirip dengan burung-burung kecil di discovery channel yang mangap-mangap menunggu makanan dari emaknya. Seseorang yang paling dekil , bungkring, dan berambut brintik duduk di tengah sedang menggelitik gitar, bernama Wawan alias Sarkowan. Selanjutnya yang paling ujung membuka mulut selebar kantong semar, perut lebar, dan sambil memegang erat botol mineral, Aripin. Terakhir, yang paling rupawan dan merona dengan wajah tegas (bukan kotak), memakai sarung dan memukul pantat gosong panci, bernama Dani. Perkenalkan, mereka tergabung dalam orkes melayu yang penuh harap dan do’a agar lekas  mendapatkan jodoh, Orkes Melayu Putra Biduwan.

Setelah menyanyikan lima lagu spesial yaitu Anggur Merah, Judi, Sharmilla, Benang Biru, dan Malam Terakhir. Mereka spesialis menyanyikan lagu dangdut lawas sesuai dengan usia dan kontur wajah masing-masing. Akibat kelelahan dan kepanasan, sang lead vocal Aripin merebut botol air mineral dingin dari genggamanku. Sambil menenggaknya, embun dingin dari dinding botol menggelinding ke sela-sela jari Aripin. Tetesannya beradu turun dengan keringat dari rambutnya yang rapi, basah kuyup. Rupanya ia menderita kepanasan yang luar biasa. Lalu disodorkannya botol itu kearahku.

“Nih! Orang tuamu masih lama ya pulangnya?”, tanyanya

“Mereka sih bilangnya dua hari lagi. Tenang ajalah, besok pasti kita jadi berangkat!”

“Lagu apa lagi nih? Yang pelan aja dulu”, Sarkowan tak tabah lagi.

“Sekali-kali  Sigur Rόs ngono loh rek”, Dani menambahkan

“Mata kamu sungguh indah, Dan! Lha dipikir suarane Ipin merdu kayak Jόnsi?”

“Salah pernyataanmu! Sing bener, Jόnsi suarane ndak duwe cengkok merdu kayak Ipin, kurang berpengalaman dalam manten performance!”, kubela harga diri Aripin.

“Ayo wes melayu asli, budhal!“, Aripin mengajak naik panggung lagi.

Kerumunan ibu berdaster mulai resah dengan kumpulan remaja asli yang sedari tadi bengak-bengok walaupun hanya mempermasalahkan lagu yang akan dinyanyikan. Seseorang diantaranya melirik Dani dengan seksama, si pria tampan dengan jambul kuda bersayap pegasus.

“Dan! Panci blirik-ku nangdi?”, Jdierrr! Bukan mengagumi ketampanan, justru menagih panci yang tempo hari diambil Dani dari dapur mak-nya, milik tetangga.

Sek bulek, durung dikorahi”, jawabnya singkat.

“Ayo jo! Melayu asli? Otentik bukan dangdut”, tagih Ipin.

“Bosen jo!”

“Nama kelompok musik kita aja sudah Orkes Melayu lho depannya, masak ndak pernah nyanyi lagu melayu?”, Ipin prihatin.

“Budhal jadi TKI sana loh kayak anake Cak No, terus kuliah ambil jurusan yang mempelajari musik melayu”, Sarkowan hanya meracau, aku yakin.

“Haaaahh… Buyar rek, main Sigur Rόs ae yak apa, bener saran Dani itu”, aku bosan, kadang mereka sangat pemilih terhadap lagu, apalagi Ipin.

“Main aman! Main aman!”, Dani melambaikan tangan ke kamera, menyerah.

“Hiduuuup penuh likuu-likuu…”

“Bosen!”, jawab Sarkowan.

Perdebatan mengenai lagu apa yang akan dimainkan selalu terjadi setiap saat, antara Ipin yang sangat pemilih, Sarkowan yang mudah bosan (apalagi nanti kalau sudah nikah, bakal cepat bosan juga nggak ini bocah) serta sulit mengambil keputusan, dan Dani yang selalu muncul dengan ide anehnya namun tidak pernah bisa mempertahankan argumennya. Berada di tengah-tengah Putra Biduwan ini kadang membuatku tertawa sendiri membayangkan ketika kami berada di situasi yang berbeda. Bagaimana kalau perdebatan tadi terjadi ketika ketiganya sedang di rumah sakit menunggu istri Sarkowan yang akan melahirkan dan harus memilih normal atau operasi? Sementara istri Sarkowan merintih sambil menjedot-jedotkan kepala dengan tiang infus.

Matahari sore sayup-sayup mulai minggir memecah gang kecil kami. Mereka memutuskan untuk menyanyikan lagu lawas milik kelompok musik Backstreet Boys berjudul incomplete sambil berteriak-teriak pilu seperti tersayat pisau cutter berharap jodoh lekas datang sehingga istri Sarkowan segera melahirkan.

“Waaaaaaaaaan! Maghrib wan! Rame ae, ndang budhal sholat”, suara lantang, tegas, dan berwibawa terdengar dua meter dari tempat kami.

Adzan sesungguhnya belum berkumandang jika adzan dari ibu Sarkowan belum terdengar.