Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan

26.2.13

Tanpa Maaf



Dingin dan perih. Ruang duduk putih berjajar tanpa penghuni di depan sebuah loket pembayaran apotek. Hanya aku yang menunggu tanpa tahu kapan akan berhenti menunggu. Sedangkan perih yang luar biasa seakan berjalan merambat di seluruh tubuhku. Beberapa robekan mengoyak bajuku putihku, yang kemudian berganti hitam di beberapa tempatnya bercampur merah. Disini hanya terdengar suara jam dinding yang menggantung entah dimana. Tapi aku tetap tak mau menghiraukannya.

"Mbak, silahkan masuk biar lukanya diperiksa"
"Saya nggak papa sus!"
"Nggak papa gimana mbak, sudah ayo masuk, nanti infeksi kalau nggak cepat dibersihkan"

Aku menurut saja, mengekor dibelakangnya. Unit Gawat Darurat, aku memasuki gerbang yang biasa mengeluarkan orang-orang sehat maupun sudah mati. Ruangan ini tidak berbau porselen rumah sakit, tapi cukup membuat perutku meronta mual. Sekilas kulirik kamu yang terbaring kaku kedinginan, tanpa suara, tanpa rintihan. Kesunyian yang panjang malam ini benar-benar merontokkan pertahananku. Transfer yang begitu cepat dari keramaian dan kehangatan malam yang sempurna. Beberapa menit berpisah dari kebahagiaan itu, aku terlempar ke daratan aspal, kemudian di sini. 

"Kamu yakin?", sebelumnya aku tahu kamu berfirasat
"Iya, kapan lagi perempuan nyetirin laki-laki kalau bukan emang bawa bapaknya yang sudah tua"
"Aku aja deh, kamu pasti ngantuk"
"Jam 12 ngantuk? Pasti kamu nggak pernah sholat istikharah ya"

Kami hanya tertawa dan aku terus memacu sepeda motor hingga kecepatan 60 km/jam. Di jam-jam seperti itu merupakan kecepatan yang wajar, jalanan hanya milikmu dan pohon-pohon yang ikut berlari mengiringimu. Kecuali jika ada sebuah mobil yang tergesa-gesa pulang dan membuat pusaran udara dingin semakin menggigit dan menyibak semua yang dilewatinya. Mobil itu melesat tanpa melihat kami, ia sengaja memberi sentuhan hangat malam itu meski hanya sesaat. 

"Sus, Kaki kiri ini kayaknya", aku terbangun.
"Ya. Mbak ini keluarga atau temannya?", kemudian mengalihkan kepalanya padaku.
"Teman sus"
"Nggak telpon keluarganya?"
"Keluarga di luar kota"
"Nanti isi form daftar buat opname ya, perwakilan aja", ujarnya sambil terus menempelkan kasa pada luka-lukaku. 

* * *

"Selamat pagi mbak!", seorang suster sedang mengecek infus kemudian menyadari aku terbangun.
"Pagi.. sus!"

Pupilku mengecil menanggapi serangan cahaya keemasan tiba-tiba. Rupanya yang membuka jendela adalah penunggu pasien di bilik sebelah. Pagi ini kakimu masih dibebat rapat, mereka bilang ada tulang yang retak. Hari ini harusnya kamu sudah berpakaian rapi dan aku melambaikan tangan padamu di stasiun. Harusnya kamu menaiki kereta ke Jakarta untuk dikarantina demi pertukaran pelajar ke Jepang. Ini adalah hari besarmu, mungkin kamu berpikir akulah seharusnya orang yang celaka malam itu. Kulihat lagi kamu sudah terbangun, diam saja menatap wastafel di depan tempat tidur. Dengan matamu yang sayu, aku belum berani mengucap apapun. Kesunyian itu berlanjut. Kukumpulkan tenagaku sekadar untuk berkata sesuatu.

"Hey!"

Kamu menusukkan pisau dari matamu, mengarahkannya ke mataku. Selanjutnya hanya diam.

"Maaf" 

Suara maaf yang kecil itu tertelan bulat-bulat oleh riuhnya pengunjung pasien sebelah. Kamu diam saja, kukira tak mendengar suaraku. Aku beranjak dari tempat duduk dan berbalik hampir meninggalkan ruangan, sampai kamu akhirnya mengucap sesuatu.

"Maaf kamu bisa kembalikan kakiku jadi lurus lagi?", nada yang seakan ingin memakanku saat itu.

Aku terus menunggumu tanpa bersuara, kamu terus menolakku. Hanya di awal aku boleh menyuapi. Selanjutnya kamu terus mengabaikanku. Berdiam diri seakan-akan ingin berkata mengapa aku masih terus disini. Sampai kapan aku betah menungguimu seperti ini. Bahkan saat teman-teman kita menjenguk, aku tetap tersisihkan. Berbagai macam telapak tangan telah menepuk punggungku disertai kata-kata manis agar aku tetap sabar. Sampai suatu malam yang sayup kamu tak bisa tidur.

"Harusnya aku sudah dikarantina di Jakarta, kamu tahu", ujarnya diantara suara dengkuran keras di kamar kelas tiga berisi lima pasien dan empat penjaganya. 
"Aku sudah telepon mereka. Dan mereka maklum akan keadaanmu, kamu bisa menyusul"
"Kenapa kamu lakuin ini? Kenapa malam itu kamu yang menyetir"
"Itu bukan salahku! Mob..."
"Aku ngantuk, aku mau tidur, kalau kamu besok mau pulang, pulang saja, aku bisa sendirian", ia memotong kata-kata penting yang kupikir akan merubah pikirannya. 

Mobil itu yang menabrak kita, bodoh! Dan supir-nya yang cuma membuka jendela-nya sejenak. wajahnya kotak dan pesok kedalam mirip yakuza. Bangsat itu menoleh sebentar kearah kita, pada darah kita yang bocor diatas aspal. Selanjutnya dia pergi meninggalkan dua korbannya tergeletak seperti sapi yang baru dihabisi tukang jagal. 

Kucoba menjelaskan hal ini lagi keesokan harinya. Kamu tetap menyuruhku pergi.

* * *

Sampai dengan hari ini, tiga hari setelah kedatanganmu dari Jepang selama tiga bulan. Kamu berjalan melewatiku di kampus seakan aku transparan, tak terlihat olehnya. Ini bukan kali pertama. Kurasa aku kehilangan sahabatku. Tak ada percakapan tentang kejadian malam itu. Selamanya dia menganggap aku yang salah. Selamanya dia akan menganggapku sebagai orang yang pernah membunuhnya, meskipun dia hidup lagi. 

Ya, aku kehilangan sahabatku. Mungkin tawa kita hanya bisa tertinggal di tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Mereka akan tetap disana bagiku, tapi bagimu semua seperti asap rokok yang kamu sembur pada malam-malam kita tertawa bersama. Tak ada alasan bagimu untuk memperbaiki semuanya. Kenyataannya memang kamu lebih suka melarikan diri dari semua yang kamu benci dibanding harus repot-repot memperbaikinya. Kamu lebih menyukai hubungan yang rusak dibanding harus menyembuhkannya. Nyawa dari kepercayaanmu cuma satu. Ketika kamu sedang disakiti, kamu membuat orang yang menyakitimu lebih menderita. Kalimat terakhir barusan mungkin hanya asumsiku.

18.2.13

Halo Gadis Bibir Ganda



Pagi masih sedikit gelap ketika kutinggalkan rumah. Sama seperti bakul sayur keliling yang wajahnya terlihat mistis kebiruan terkena cahaya langit subuh. Ia menyapaku dengan senyuman sangat manis, rambut gondrong-ku setengah kusibak pelan. Sayangnya si bakul sayur seorang laki-laki. Aku berjalan terpincang-pincang menuju pangkalan bemo dekat rumah. Karena ini hari Minggu, maka terlihat banyak lansia memutar-mutar otot persendian. Biasanya jam segini aku sudah berpakaian cantik pakai sport bra kemudian lari-larian keliling kecamatan. Yah karena pembukaan yang cukup random tanpa kejelasan jenis kelamin, perkenalkan namaku Sukidi, singkatan dari Suria Dwiki Setiadi. Buat yang baru kenal, jangan coba menduga-duga kalau aku imigran gelap asal Suriah. Hari ini aku harus menjalankan misi penting tugas kuliah untuk menulis tentang kerajaan Majapahit. Sang dosen berharap kami berkunjung ke situs-situs yang berkaitan dengan kerajaan Majapahit serta menunjukkan bukti foto kami pernah kesana. Yah, nanti bakal kukirim fotoku pakai songkok bareng satpam museum. Beberapa teman-teman perkosa (persahabatan kompak selamanya) sudah mencuat dengan foto-foto mereka di media anti-sosial. Mereka sempat mengajakku naik sepeda motor, namun apa daya kaki-ku masih terluka pasca-kecelakaan. Maka kuputuskan naik kendaraan umum bersama teman-teman persami (persahabatan sesama mami), terdiri dari wanita-wanita ber-gincu tipis dengan alis dan bibir setengah berjingkat agar terkesan eksotis. Menarik bisa mengenal makhluk-makhluk ini, namun ada satu yang cukup menggelisahkan sukma. Seseorang diantara mereka bernama Atundh (sebut saja) yang akhir-akhir ini cukup agresif, reaktif, serta menginvasiku. Semoga garuk punggung yang satu ini nggak jadi ikut.

Setelah menuruni bemo biru, satu kali naik bis kota, maka sampailah di Terminal Bungurasih. Kami janji ketemuan di dekat peron. Kutengok sejenak jam tangan-ku, sudah jam 6 pagi, mereka pasti sudah sampai. Jam segini sudah wajar kalau terminal terlihat sangat gaduh, apalagi di hari Minggu. Sangat berbeda ketika aku singgah ke sebuah terminal di antah berantah Jawa Timur beberapa bulan yang lalu. Itu terminal kasihan, semacam lagi menjalani siksa kubur. Sebagai orang yang suka jalan-jalan, rasanya sudah biasa dengan macam kericuhan bau, mulai bau manusia, bau bus, dan asap rokok. Aku-pun merasa nggak yakin para persami ini bisa bertahan dengan kondisi ini. Namun aku percaya, mereka adalah wanita perkasa yang mampu mendongkrak ban bus saat bocor. Tapi hatiku masih sedikit was-was, takut akan kehadiran Atundh. Sedikit saja kulihat seuntai rambut berkuncir kabel telepon warna hijau muda di udara, habis sudah kebahagiaanku hari ini. Dia itu ibarat dementor, bisa menghisap harapan hidup anak bangsa. Awalnya kulihat sekumpulan ibu-ibu sedang bertukar rantang di dekat peron, kuamati lagi dengan seksama.

"Kidi ganteng...", Odyta menyapaku duluan.
"Eh cakep, pagi-pagi udah wangi aja, mau jadi penghulu ya", Arila menambahi.
"Hai manis, abang boleh pinjem bando? ya ampun... Abang kepanasan"
"Hai semuanyaaaaa", mati! suara jamur merang nih kayaknya
"Eh, Atundh", Odyta menyambut.
"Eh Kidi", senyumnya merekah ke arahku. Aku butuh rencong, clurit, gergaji mesin, pisau cukur, gunting rumput, mercon banting, apapun yang bisa bikin aku enyah dari hadapan perempuan ini, duh. 
"Hai... tun!"

Tujuan kami adalah Museum Trowulan di Mojokerto, tapi kami menumpang bus jurusan Madiun supaya gampang dilempar ke pinggir jalan. Karena menggunakan kendaraan umum, maka kami memutuskan ke Trowulan saja tanpa berkunjung ke situs Majapahit yang lainnya. Di Mojokerto situs-situs kerajaan besar ini tersebar di beberapa wilayah. Kami juga berpesan sama paklik kernet, kalau sudah sampai di Trowulan mohon kami mohon segera di seret ke pintu dan di-ketapel mirip Angry Birds. Di bus aku duduk bersebelahan dengan Odyta yang terlihat sangat kumus-kumus hari ini. Kami saling mengobrol dengan menjerit nestapa akibat suara bus yang mengerang keras.

"Odyt.. minta tisu dong, bawa nggak?", sekepal kepala muncul dari belakang, dengan rambut lurus menggerayangi mukaku yang suci.
"Ehm, ngga bawa tun"
"aduh gimana nih, telur puyuhnya ada yg kurang mateng, pecah, trus kuning telurnya nempel di celana aku. Aduh ini celana item lagi, jadinya keliatan kalo kotor dong ah, gimana ya?"
"kamu bawa telur puyuh"
"enggak, barusan beli. aduh gimana dong Odyt? baru ganti lagi nih celana. aduh ngapain ya tadi beli telur puyuh juga"
"Yaudah sih tun.. kaos kamu kan panjang, kalo berdiri juga pasti ketutupan"
"Uggh, sebel deh. Ngapain ya tadi. Nggak mau jadi kayak gini"

Oke, kenapa perempuan bisa jadi segitu terluka-nya akibat noda telor puyuh. Anehnya ini anak nyata dan gimana kalau nanti diselingkuhin? Pasti bakal ngurung diri dalem kulkas kalau nggak mainan kompor gas. Duduk di sebelah Odyta lumayan bikin tentram, meskipun kericuhan masih terdengar di belakang yang dari tadi sepanjang perjalanan sudah ngomongin banyak hal, mulai mantannya, makanan yang pengen dia makan sekarang, dokter, puskesmas, penyakit kulit, sampai berapa harga kluwak di pasar. I'm a good listener, but this one is not worth to be heard. Tsaahh! Dibuka ya kamus bahasa Swaziland-nya. Oke, mari berusaha menenangkan diri dengan berpikir positif, tarik nafaaaaas, keluar, keluar, keluar, arwah jahat keluar. 

Dari tadi aku sudah menghitung ada lima gelintir pengamen yang keluar masuk bus dan mulai menjadikan bus ini sebagai acara musik lalala yeyeye. Biasanya, kalau sedang menempuh perjalanan semacam ini, aku menyiapkan beberapa recehan buat pengamen, tapi berhubung tidak bawa, pura-pura tidur adalah solusi terbaik atas kemelut ini. Bodohnya lagi, sebulan yang lalu naik pesawat malah membawa recehan banyak. Pengamen di pesawat turunnya lewat mana bu? Sesampainya di penghujung Krian, Odyta malah tersungkur lemah ketiduran.

"Ayo mas! Trowulan, Trowulan yo!", pak kernet melambaikan bibirnya ke udara. Tak ada pilihan selain mengguncang Odyta.

Kami turun tertatih-tatih akibat pantat yang kelu. Odyta setengah mengantuk digandeng oleh Arila. Semoga makhluk berisik satunya nggak berharap kugandeng juga. Bangunan di depan kami mengawasi wajah kami yang tentram diserbu udara segar. Kami-pun bertanya pada seorang satpam manis yang sedang duduk-duduk menghirup kopi.

"Pak, bener yah ini museum trowulan?"
"Loh, bukan. Musium-nya bukan di sini dek? Masih satu kilo-an lagi lewat sana", ketiaknya ngangkat dan menantang.
"Waduh, naik apa ya pak?"
"Jalan bisa, naik becak juga bisa,deket kok, tinggal lurus belok kanan"

Aduh, kenapa bisa salah tempat begini. Harapan palsu! Kami-pun berjalan lagi dengan terseok-seok memandangi jalanan yang ramai seakan mengejek "Nyasar ya lu". Sedangkan kaki-ku apa ya bakalan kuat jalan segitu jauhnya.

"Aduh masih jauh ya, gimana dong males banget jalan nih", oke ini baru lima meter. Siapapun tolong bawakan solder.
"Alah cuma sekilo doang", 

Odyta yang masih ngantuk aja masih terlihat setegar batu karang. Weits, ngantuk sama pasca-kecelakaan itu beda lho. Maunya naik kendaraan umum biar nggak capek, ini malah jalan satu kilo. Nyampe sana ini perban pasti udah pada berguguran tinggal tulang aja ini kaki. Becak juga tak satu helai-pun yang lewat. Seorang bapak-bapak manis sedang duduk di teras rumahnya saat kami lewat.

"Pak, nyuwun sewu, mau ke museum Trowulan bener lewat sini pak", iseng aja nanya ketimbang nyasar ke pekuburan.
"Iya dek, tinggal lurus belok kanan, dedek mau kesana?", tuh kan manis banget.
"Enggak om, mau ke sumur bor dimana ya?", lagi-lagi dibalas senyuman manis.
"Saya anterin aja naik motor, tapi duapuluh ribu ya dua kali angkut", matanya terlihat sedang menghitung jumlah kami. 
"Gimana?", tanyanya memastikan.
"Eh, bentar ya pak", bapak tadi terlihat menyingkir sejenak sambil pura-pura nge-lap motornya.

Kami menjauhi bapak tadi sambil berbisik-bisik mesra.

"Gimana kid, kamu kan cowok, kamu yang mutusin deh", Arila muncul dengan wajah kalut
"Oke kita putus"
"Aduh, kamu aku jitak loh ya! Kita tetep jalan, naik becak, apa naik om itu?", Atundh mulai lamis.
"Pikirin kaki kamu kid! Jangan mikirin duitnya, nanti kita urunan"
"Oke deh"

Kemudian kami saling menumpuk tangan sambil meneriakkan jargon persami, eh bukan ya.

"Oke, kami terima bapak!"
"Saya diterima?", trus bapaknya sujud syukur. Ini cerita apa sih sebenernya.
"Dua puluh ribu ya pak! Eh, nggak boleh kurang"
"Jaraknya lumayan lho"
"Lima belas deh pak ya"

Kami-pun berangkat bergantian digonceng bapak tadi, aku dengan Odyta, lagi-lagi Alhamdulillah. Atundh berangkat duluan dengan Arila.

"Eh ril, kamu duluan aja, aku nggak mau ngangkang banget", duh apa sih. 
"Eh, bentar dong, kamu agak majuan dikit ril, dikit aja, nah gitu"

kami menghela nafas panjang sesampainya di depan museum, suasananya sepi, dan lagi sepanjang perjalanan kami melewati rumah-rumah yang sepi, tentram, dan damai seperti nggak pernah ricuh, nggak ada pedagang ember yang berisik, satu-satunya makhluk yang berisik saat ini ya cuma Atundh. Arila mulai mepet-mepet di sebelahku karena sepertinya sudah menahan luka yang menahun bersama Atundh.

"Kid, yang sabar ya"
"Yang ada kamu yang sabar Ril"
"Maksudku, kayaknya Atundh suka kamu deh. Dia emang impulsif anaknya, tapi hari ini kok nggak masuk akal. Kayaknya gara-gara ada kamu"
"Nih, dengerin ya ril, anak kayak Atundh itu kayaknya nggak cuma sama aku dia kayak gitu. Suratan takdir yang bikin dia kayak begitu"
"Mungkin gara-gara dia baru putus ya"
"Nih, kalau orang habis putus biasanya nggak secepet itu sok-sok cari perhatian ke orang lain. Pasti lebih hati-hati dulu sambil move on, itupun kalau niatnya move on, kalau enggak juga ga bakal separah itu juga Ril"
"Yah, hari ini kamu yang sabar, harusnya kamu kesini bareng temen-temen kamu aja"
"Niatku itu cuma pengen macak gembel, aku kangen naik bus, dan aku nggak tau kalian ngajak garuk punggung itu, kalian bilangnya udah putus hubungan sama makhluk halus kayak gitu", Arila kelihatan merasa bersalah, akhirnya aku cuma menepuk-nepuk pundaknya pakai sekop biar dia lega. 

"Kidi, bisa tolong pegangin tas akuh nggak, aku mau benerin sepatu nih", Odyta dan Arila sudah berkeliling, saatnya ngerjain ini biji nangka.
"Eh, Atundh"
"Yah?"
"Kamu suka aku ya?", wajahnya langsung berubah jadi ungu kayak ketabrak becak mesin.
"Emm... enggak tuh, ih kamu kok gitu sih, ge-er banget", orang yang salah tingkah itu memang beda-beda reaksinya, ada yang cuma diam tapi di dalamnya berasap, ada juga yang langsung memperagakan senam kegel, aerobik, SKJ 2000 sampai SKJ 3000 kayak anak ini. 
"Habis kamu suka cari perhatian ke aku sih, aku kan jadi salah tingkah", senyumnya merekah sambil sok ngambek, kalau aku suka dia pasti aku bilang 'ih lucunya'. Tapi ini situasi yang berbeda. 
"Tuh kan kamu ge-er banget, liat deh! lagian siapa juga yang suka kamu"
"Aku cuma mau ngasih tau sih, kalau kamu suka aku, maaf ya, soalnya aku nggak suka kamu"
"Ih apaan sih, kamu... lagian nih ya aku kan baru putus... *bla bla bla sensor bla bla bla bla sensor sensor blah blah*

Kalau saja arca-arca ini bukan benda bersejarah, pasti udah kulempar ke bibir ini anak. Berisik.

13.1.13

Aven x Prionsa

                                       
Setiap orang punya cerita masa kecil yang super polos, manis, dan pasti sulit terlupakan. Begitu pula denganku, ketika masih hidup di bawah pohon mangga yang rimbun dan dikutuk untuk jadi produktif berbuah. Suatu sore yang bahagia, aku sedang asyik diterpa angin sepoi sambil tiduran di bawah pohon. Tiba-tiba terdengar ribut suara para remaja kampung yang saling adu kaki di tengah gang lengkap dengan suara gedebak gedebuk bola. 

"Ja**ok" mbeleset c*k", jackpot mantap semakin membangunkanku.

Sang pembuat kata-kata manja itu menyadari kekagetanku. Dengan senyum merekah ia melirikkan matanya pada anak laki-laki yang berdiri canggung di sampingnya. Tidak lupa dengan gerakan alis yang naik turun macam orang yang memperbaiki genteng tapi tiba-tiba kebelet pipis saat di atas. 

"Feh! Eh, ada yang mau kenalan lho!", teriak Joni.

Hari itu pertama kali melihat Prionsa. Nama aslinya sangat dingin seperti sebuah negara di utara Irlandia, ia sangat berkorelasi dengan es. Paras yang sangat jarang ditemukan di kampung bersawah awal abad 20. Wajahnya lebih manis dari es wawan rasa soklat, bertolak belakang limapuluh kilometer dari paras Joni. Umurku baru sewindu dapat bonus 12 bulan, tapi rasanya baru aku yang mengalami ini. Setiap keluar rumah selalu melirik ke rumah tetangga baru itu. Kadang kami berbagi aktivitas bersama, mengantri bakso di malam hari, bersepeda bersama, berjumpa di toko kelontong juga. Kadang aku melihatnya duduk-duduk sambil menyanyi diiringi gitar kakak Joni dikelilingi anak laki-laki lainnya. Karena keseringan bermain sama Joni, aku jadi jarang main lagi gara-gara malu ada Prionsa. Joni adalah perwakilan mulut super besar yang suka menggojloki sampai muka korbannya merah kebiruan tanpa kekerasan. Pernah juga ketika Prionsa duduk-duduk dengan Joni lalu melemparku dengan kerikil sehingga aku menoleh ke arahnya. 

Kami masih belum bicara satu sama lain, sampai suatu ketika ada sepucuk surat beramplop airmail merah dan biru duduk manis di bangku kelasku. Kubuka pelan-pelan sambil waspada, takut isinya surat panggilan orang tua atau tagihan ongotan yang baru kubeli kredit sama Fida. ternyata isinya hanya selembar kertas epek-epek dengan tulisan kruwel-kruwel yang jelek tapi sangat lucu. Kubaca habis surat itu sehingga di akhir surat itu ada tulisan besar-besar: "I Love You, Ofe!. Salam manis, Prionsa".Ya, di jaman itu masih belum musim salam model xoxo. Wajahku tak kuat menahan debuman jantung yang sedang tidak umum. Dari kejauhan terdengar suara kikik-an Yanto, dengan senyum selebar senyum kuda ia mendekatiku.

"Cieeeeee.... Ofe"
"Kamu kok tau aku kenal Prionsa? Atau jangan-jangan ini kamu yang nulis ya?"
"Cuih, ngapain aku lope-lope sama kamu? Prionsa 'kan teman ngaji-ku? Kalau butuh jasa surat-menyurat, hubungi aku ya, biaya-nya bisa pakai apa aja, es wawan, tahu isi, es teh, bakso, sate usus, terserah deh", ujarnya sambil mengedipkan mata.

Sejak saat itu, kurir cinta sudah aktif melaksanakan tugas-tugasnya. Lama-kelamaan aku dan Prionsa semakin sering terlihat ngobrol bersama di emperan rumahnya, main-main dengan adiknya, juga kenalan dengan ibunya. Aku dibawa ke kamarnya juga, jangan salah, cuma buat belajar IPS kok, yakin deh. Prionsa ternyata tidak begitu humoris, ia anak yang memang keren, kalau jaman sekarang boleh lah mukanya di mirip-kan sama Elijah Wood. Tapi di balik kekerenannya, ia biasa saja, ya romantis juga boleh. Sampai di suatu Rabu sore seorang makhluk lagi datang dan Joni mulai berkoar-koar lagi.

"Iku ta areke, Ven?"

Sore itu aku sedang lewat di depan rumah Joni setelah disuruh beli minyak tanah. Ada seorang anak lagi dengan wajah yang tidak kukenal. Senyumannya terlalu murah untuk diumbar-umbar. Selama beberapa hari setelahnya, Prionsa entah menghilang kemana. Aven jadi sering berkeliaran sambil kami bersepeda bersama. Ia juga akhirnya akrab dengan anak-anak di kampung sambil bermain bola, dan main gitar bersama Joni dan kakaknya. Tiada perkenalan yang sangat resmi dengan Aven. Hanya saja, ia sangat mudah membuatku tertawa. Entah memuji atau setengah meledek, kalau aku sedang ngambek, dia akan menjulukiku mirip Sherina. Waktu itu sedang naik daun naik pohon sebuah film berjudul "Petualangan Sherina". Kami jadi sering menghabiskan waktu bersama. Kadang aku duduk-duduk, lalu Aven main burung dara punya Joni (nah ya, apalah itu), memanjat pagupon di atas rumah Joni.

"Kamu rangking berapa sih Ven di sekolah?"
"Rangking satu dong"
"Beneran? Anak kayak kamu?"
"Gak percaya? Tanya mamaku dong!"
"Gak mungkin"
"Yaudah ga percaya, kamu rangking berapa di sekolah?"
"Rangking lima"

Menyenangkan juga bersama Aven, ia sangat lucu. Sering berdebat-debat manja juga, euwwwh pletasss! Lalu aku lupa ada Prionsa. Suatu hari, Joni datang dengan muka datar tanpa ekspresi, sebuah pertanda akan terjadi bencana alam. 

"Kamu kok jadi deket Aven? Kamu suka Aven ya?"
"Enggak, kenapa?"
"Kamu pilih mana? Aven apa Prionsa?"

Aku berpikir keras, ini pertanyaan yang sangat kontemplatif dan amat kompleks. Sulit untuk diungkapkan.

"Err... Aku juga suka Aven"
Angin bahorok berputar-putar pada wajah Joni. Selanjutnya sudah jelas apa yang terjadi, ia datang ke Prionsa sambil mendobrak pintu.
"Lapor komandan"
"Ya, ada apa"
"Ternyata Ofe juga menyukai Aven, komandan"
"Timak dungkin! Tidak mungkin"

Beberapa menit kemudian Komandan Prionsa membanting kursi dan meja sambil menyabet gelas dan piring ke tembok. Selanjutnya disambut jeweran kuping oleh ibunya. Sejak hari itu, Yanto tidak memberi kabar apa-apa selain sepucuk surat terakhir dari Prionsa yang berisi salam perpisahan. Kemudian lagu dari Rhoma Irama berjudul Malam Terakhir menjadi soundtrack resmi peristiwa tersebut.

Aven ternyata harus segera pergi sementara dengan sekuat tenaga aku memohon maaf pada Prionsa. Ternyata Prionsa memilih gadis lain yang lebih kalem dan baik-baik dibanding aku yang hobi bersepeda dan sering jatuh, bundas terlunta-lunta. Tapi Aven adalah cerminan lelaki yang sangat lucu, cerdas, dan gagal pikir. Sangat bertolak belakang dengan Prionsa yang serius, meski tampan. Prionsa menjalin tali asmara dengan yang lain, Aven pergi. Hari kepergian Aven adalah tepat ketika ia menaikkan barang-barangnya ke mobil diikuti dengan dirinya sendiri. Kemudian kepalaku terpaku pada kaca nako ketika radio sedang memutar lagu Ari Lasso berjudul Hampa. Yah, akhirnya melepas Prionsa dan Aven. Dua orang yang sangat berbeda namun sangat berwarna. Sekarang kalian pasti sudah dewasa, dan prediksi Ofe menyatakan bahwa Aven akan tumbuh berkembang dengan paras seperti James Franco, selanjutnya Prionsa akan sangat tampan seperti Jonathan Bennett atau Reuben Elishama juga boleh.