Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

13.4.13

Hamparan Ilusi Senja


Setiap pagi akan menceritakan kisah yang berbeda. Setiap orang mengartikan pagi dengan cara yang berbeda. Pagi ini, ia duduk disampingku berselimutkan jaket hijau yang sudah menyelimuti sejak tubuhnya masih dempal dan gemuk. Sehingga jaket itu tampak hanya menempel saja karena sesak kesempitan. Kini jaket itu dengan leluasa merangkul tubuh dan segenap jiwanya. Ruang-ruang yang tersisa mendekap udara dari pendingin. Kami tertidur semalaman di pinggir jalan. Akulah yang awalnya bersikeras mengajaknya ikut jalan-jalan keluar kota, merayakan mobil baru pemberian kakakku. Tak ada seorangpun yang mau kuajak kecuali ayah. Ibu sudah tak kuat lagi bepergian jauh karena diabetes membuatnya mudah buang air kecil. Kakak sibuk dengan pekerjaan barunya, yang memberi kami mobil ini. 

"Ayah laper", kebangkitannya yang tiba-tiba membuatku memalingkan wajahku dari sinar yang semburat,
"Mmm...", kutengok jam di ponselku. baru pukul 5.30.
"Sebelah itu apa? Asrama?"

Hanya ada beberapa anak laki-laki seusiaku tiduran di emper sebuah bangunan, beberapa anak perempuan sibuk duduk-duduk, ada yang tertidur. Barang anak laki-laki itu berserakan di lantai. Juga kabel-kabel yang menjuntai tak beraturan diantaranya. Telinga-telinga yang terumbat kabel-kabel putih dan hitam. Sudah bisa terduga, mereka pasti anak-anak kota yang hidupnya tergantung dengan kabel. Hanya ada satu diantara mereka yang terjaga, dari tadi aku memperhatikannya sering mencuri pandang pada mobil kami. Tiba-tiba ayah membuka pintu, berjalan menuju anak itu. Entah apa yang mereka bicarakan, anak itu nampak terkejut pada awalnya. Kemudian mereka saling berbicara akrab dan anak itu berdiri mengikuti ayah menuju kemari.

"Mereka anak PKL, dari universitas yang sama kayak kamu"
"Mmm..."
"Ini, nama aslinya ayah ndak tahu, Gibo. Ayo cari makan bareng", nama macam apa itu.

Aku keluar dari ruang persembunyianku seperti biduan termasyhur yang sejak tadi ditunggu oleh suara kamera wartawan dan karpet merah. Nyatanya hanya ada suara klurukan ayam. Kami berjalan selama beberapa meter dari mobil kami yang sembunyi dibalik kawanan bus para mahasiswa itu.

"Anak sastra, meneliti tentang batik?"
"Yah, semacam itu"

Kami duduk diantara orang-orang lokal yang sudah sarapan sepagi ini di sebuah warung pecel yang kami temukan. Gibo memesan semangkuk penuh bubur sumsum seharga 3000 Rupiah. Aku hanya menghirup teh hangat sambil melihat ayah yang lahap meremas rempeyek dengan giginya yang makin tertinggal sedikit. Mereka sibuk menyergap makanan berasap di depan mereka. Sedangkan aku masih bingung dengan desa kecil ini. Semalam kami memutuskan berhenti karena hari terlalu larut, aku tak kuat menyetir dan ayah tak bisa menyetir. Sebelah kami hanyalah padang gelap yang membiru oleh langit pukul 1 dinihari. Aku bahkan tak ingat ada bangunan mirip asrama di seberang jalan, apalagi barisan bus di depan kami. Tak ada penerangan jalan yang memberi isyarat bangunan atau apa saja yang ada di sekitar kami, sehingga hanya pagi yang mampu menunjukkan. Mereka kekenyangan. 

Kami kembali ke asrama tadi. Kami bertemu seorang nenek tua yang memandangi kami. Ayah mencoba menyapa, namun ia hanya terdiam sambil terus mengawasi. Setelah melewati warung dan beberapa rumah, kami berhenti sejenak dan memandang sekeliling. Terkejut, kutarik tangan Gibo tiba-tiba dan mengangkatnya tinggi-tinggi melawan arah sinar matahari. Kucubit pipinya yang kurus.

"Kamu manusia?"
"Awww... Kamu pikir aku jin?"
"Loooohhhh! Astagaaaaa!"

Dihadapan kami hanyalah bentangan sawah yang berbayang gelap meski kini sudah pagi buta. Kemana bangunan asrama tadi? Tak ada bus di depan mobil kami. 

"Tuhan, semalam aku tidur di sawah?"
"Gibo, telpon teman-teman kamu!"

Dengan panik, ia keluarkan ponsel-nya dan mencabut kabel yang masih tertanam diujungnya, sambil menekan-nekan tombolnya. Ia menunggu seseorang menjawab sambil menggigit-gigit ujung jempolnya.

"Mbul! Nangdi kowe?", suara orang diseberang juga terdengar jelas
"Lho, ditempat tadi"
"Tempat tadi dimana?"
"Lho, semalaman kita poker-an di depan kamar hotel"
"Kamar hotel? Mbul, semalem kita tidur depan asrama mbul, kapan kita main kartu?"
"Ojo guyon! Tak gedhor lho jedhing-e"
"Mbul, jeneng hotel-e opo?"

Kami bertiga segera masuk mobil dan dengan kecepatan tinggi kubalap segala macam yang lewat dijalanan, dokar, sepeda motor, dorkas, yang seakan-akan meledek kami dengan suara berat ala setan haus belaian "idihhh... ketipu deh situ semalem bobok sama eike" Syiiiiiiiit! 

"Pantes ya tadi ibu yang jual pecel tadi itu nanya, mas-nya darimana. Aku jawab dari asrama sebelah. Dia cuma ngangguk terus bilang, lain kali ati-ati mas. Apa maksudnya? Apa?", Gibo ngomel tak karuan.
"Pantesan juga tadi ayah ngerasa kudu ngomong aja sama anak ini, nggak tahu kenapa pokoknya ayah kudu ngomong"
"Pantesan juga bo, jangan-jangan semalem kamu di-grepe grepe setan. Bayangin aja mukanya, jelek gitu. Siapa tau dulunya dia sakit kolera, disentri, kaki gajah, hayo?", aku hanya mencoba mencairkan suasana karena aku benci ditakut-takuti. 

Hotel yang disebut teman Gibo terlihat dari kejauhan, setelah kami bertanya kesana-kemari. Tentu saja dengan manusia. Terlihat dua bus menepi nanggung di depan hotel, dengan jenis yang sangat berbeda dari yang kami lihat tadi pagi. Gagal imitasi ini setannya, atau Gibo yang rabun. Terlihat orang-orang sibuk wara-wiri di depan resepsionis. Dengan langkah pasti Gibo memasuki ruangan dan suara gaduh yang tiba-tiba terhenti, tiba-tiba gaduh kembali. 

"Giboooooooo....."
"Gembuuuuuuul..."
Dengan pipi saling menyembul mereka berpelukan lega. Ayah dan aku kini merasa seperti Sam dan Dean Winchester dalam serial New Girl. Eh, salah ya? Sekian deh.

***

*terinspirasi oleh sebut saja angga tua sakaki makio yang sempat tertipu di pulau sempu, serta keinginan road trip yang menggelegar*

10.3.13

Orang Ketiga



Aku bersembunyi di balik pohon pisang. Daunnya yang panjang menyibak rambutku. Batangnya yang kurus tak akan menyembunyikanku secara sempurna. Tapi apa boleh buat, aku butuh perlindungan. Pagi itu ia datang ke rumahku, menaruh selembar kertas dan sebatang bunga mawar yang ujung batangnya digunting dengan gunting tumpul. Bagian itu memperlihatkan sebatang bunga mawar yang terluka. Juga dua ekor semut yang lalu lalang pada duri-duri kecilnya.

Krisna. Itulah nama yang ia perkenalkan saat pertama kali melihatku. Kami saling mencuri pandang pada sebuah ruang tunggu dokter yang putih dan dingin. Ia duduk bersebelahan dengan ransel-nya yang setengah terbuka, dengan rambut acak-acakan, celana pendek, kaos biru, dan sepatu kanvas. Ia terlihat muda. Hanya ada aku, ibuku, dan ia pada senja itu. Kami semua sama-sama duduk terdiam. Hanya tabung televisi yang terpasang di atas, sibuk berbicara sendiri, memberantakkan ruangan yang dingin berbau pewangi AC. Dokter akan datang pada setengah tujuh malam, satu jam lagi. Aku hanya akan menujukan mataku pada lembaran-lembaran yang kesepian di hadapanku, berbicara pada otakku tentang teori Panopticon oleh Baudrillard. Dimana ada sistem seperti penjara yang akan mengawasi orang-orang tanpa mereka sadari. Itulah yang dilakukan Krisna saat itu. Lalu wajahnya nampak tak sabar dan menepi duduk disebelah ibuku. Televisi masih sibuk berbicara tentang kehidupan seorang anak yang terlunta-lunta akibat kehilangan tangan kanannya, dan harus membantu neneknya bekerja. Tak ada ayah, tak ada ibu. 

"Kasihan ya anak ini"
"Ya, mungkin pelajaran agar kita bersyukur, ada banyak orang yang lebih menderita", ibuku menyambut suara anak muda itu. 
"Mmm... Dokter biasa datang jam berapa ya bu?", aku tahu ia hanya berpura-pura bertanya. Tidak mungkin ada orang datang se-sore ini pada hari pertama berobat kemari. Mereka biasanya terlambat kemudian menemukan ruang tunggu yang sangat penuh. Oke, Baudrillard, Baudrillard, aku fokus mendengarmu.
"Jam setengah tujuh sampai jam tujuh, ini mas-nya yang sakit atau?"
"Ya, mungkin aneh, saya masih muda tapi sudah ke dokter ahli jantung"
"Beneran?"
"Hehe, saya ngantriin ibu saya"
"Ooh, pantesan"
"Ibu sendiri?"
"Saya diabetes, jantung, darah tinggi"
"Wah mama saya juga. Jadi, dikit-dikit mikir"

Mereka terdengar sangat akrab. Kali ini bukan hanya televisi yang berbicara. Bisa diduga selanjutnya apa yang terjadi, kami saling tersenyum, berpamitan, dan saling mendapatkan user name twitter masing-masing. Aku masih belum tahu siapa orang ini, tapi kami menghabiskan malam-malam selanjutnya di depan layar putih dengan huruf-huruf yang berlalu lalang cepat sampai pelan. 

Dulunya hanya ada secangkir bening kopi terhidang di atas meja kantin. Teman-temanku menyebutku tua, karena tidak meminum susu coklat atau es teh. Kemudian datanglah laki-laki yang kutemui di sebuah ruang dingin itu, yang ternyata kuliah di universitas yang sama denganku. Pagi-pagi selanjutnya akan ada dua cangkir bening kopi. Kami menyatakan saling suka, dan kami sepakat menyebut ini sebuah hubungan resmi, official relationship! Kemudian, semuanya tumbuh secara cepat, melesat seperti busur panah yang akhirnya menusuk korbannya tepat sasaran. Tawa yang dipercepat dengan tombol fast forward berganti dengan adegan dimana hujan turun terlalu sering. Dan membawaku berdiri ketakutan dibalik pohon pisang ini. 

Di malam-malam sebelumnya, aku melihatnya bergandengan tangan di sebuah padang hijau yang menjadi hitam di malam hari. Perempuan yang disampingnya itu selalu memakai pakaian putih, lebih lusuh dari yang biasa kupakai. Ia biasa duduk diantara dahan beringin dan mengayunkan lengannya yang halus sambil menjatuhkan dedaunan untuk mengagetkan siapapun yang duduk dibawahnya. Apakah aku bisa memanggilnya sebagai orang ketiga? Entahlah, tapi wujudnya setengah khayal. Ditikung manusia saja cukup membuatku menjadi muram dan tak makan berhari-hari. Lalu harus kusebut apa ini?

26.2.13

Tanpa Maaf



Dingin dan perih. Ruang duduk putih berjajar tanpa penghuni di depan sebuah loket pembayaran apotek. Hanya aku yang menunggu tanpa tahu kapan akan berhenti menunggu. Sedangkan perih yang luar biasa seakan berjalan merambat di seluruh tubuhku. Beberapa robekan mengoyak bajuku putihku, yang kemudian berganti hitam di beberapa tempatnya bercampur merah. Disini hanya terdengar suara jam dinding yang menggantung entah dimana. Tapi aku tetap tak mau menghiraukannya.

"Mbak, silahkan masuk biar lukanya diperiksa"
"Saya nggak papa sus!"
"Nggak papa gimana mbak, sudah ayo masuk, nanti infeksi kalau nggak cepat dibersihkan"

Aku menurut saja, mengekor dibelakangnya. Unit Gawat Darurat, aku memasuki gerbang yang biasa mengeluarkan orang-orang sehat maupun sudah mati. Ruangan ini tidak berbau porselen rumah sakit, tapi cukup membuat perutku meronta mual. Sekilas kulirik kamu yang terbaring kaku kedinginan, tanpa suara, tanpa rintihan. Kesunyian yang panjang malam ini benar-benar merontokkan pertahananku. Transfer yang begitu cepat dari keramaian dan kehangatan malam yang sempurna. Beberapa menit berpisah dari kebahagiaan itu, aku terlempar ke daratan aspal, kemudian di sini. 

"Kamu yakin?", sebelumnya aku tahu kamu berfirasat
"Iya, kapan lagi perempuan nyetirin laki-laki kalau bukan emang bawa bapaknya yang sudah tua"
"Aku aja deh, kamu pasti ngantuk"
"Jam 12 ngantuk? Pasti kamu nggak pernah sholat istikharah ya"

Kami hanya tertawa dan aku terus memacu sepeda motor hingga kecepatan 60 km/jam. Di jam-jam seperti itu merupakan kecepatan yang wajar, jalanan hanya milikmu dan pohon-pohon yang ikut berlari mengiringimu. Kecuali jika ada sebuah mobil yang tergesa-gesa pulang dan membuat pusaran udara dingin semakin menggigit dan menyibak semua yang dilewatinya. Mobil itu melesat tanpa melihat kami, ia sengaja memberi sentuhan hangat malam itu meski hanya sesaat. 

"Sus, Kaki kiri ini kayaknya", aku terbangun.
"Ya. Mbak ini keluarga atau temannya?", kemudian mengalihkan kepalanya padaku.
"Teman sus"
"Nggak telpon keluarganya?"
"Keluarga di luar kota"
"Nanti isi form daftar buat opname ya, perwakilan aja", ujarnya sambil terus menempelkan kasa pada luka-lukaku. 

* * *

"Selamat pagi mbak!", seorang suster sedang mengecek infus kemudian menyadari aku terbangun.
"Pagi.. sus!"

Pupilku mengecil menanggapi serangan cahaya keemasan tiba-tiba. Rupanya yang membuka jendela adalah penunggu pasien di bilik sebelah. Pagi ini kakimu masih dibebat rapat, mereka bilang ada tulang yang retak. Hari ini harusnya kamu sudah berpakaian rapi dan aku melambaikan tangan padamu di stasiun. Harusnya kamu menaiki kereta ke Jakarta untuk dikarantina demi pertukaran pelajar ke Jepang. Ini adalah hari besarmu, mungkin kamu berpikir akulah seharusnya orang yang celaka malam itu. Kulihat lagi kamu sudah terbangun, diam saja menatap wastafel di depan tempat tidur. Dengan matamu yang sayu, aku belum berani mengucap apapun. Kesunyian itu berlanjut. Kukumpulkan tenagaku sekadar untuk berkata sesuatu.

"Hey!"

Kamu menusukkan pisau dari matamu, mengarahkannya ke mataku. Selanjutnya hanya diam.

"Maaf" 

Suara maaf yang kecil itu tertelan bulat-bulat oleh riuhnya pengunjung pasien sebelah. Kamu diam saja, kukira tak mendengar suaraku. Aku beranjak dari tempat duduk dan berbalik hampir meninggalkan ruangan, sampai kamu akhirnya mengucap sesuatu.

"Maaf kamu bisa kembalikan kakiku jadi lurus lagi?", nada yang seakan ingin memakanku saat itu.

Aku terus menunggumu tanpa bersuara, kamu terus menolakku. Hanya di awal aku boleh menyuapi. Selanjutnya kamu terus mengabaikanku. Berdiam diri seakan-akan ingin berkata mengapa aku masih terus disini. Sampai kapan aku betah menungguimu seperti ini. Bahkan saat teman-teman kita menjenguk, aku tetap tersisihkan. Berbagai macam telapak tangan telah menepuk punggungku disertai kata-kata manis agar aku tetap sabar. Sampai suatu malam yang sayup kamu tak bisa tidur.

"Harusnya aku sudah dikarantina di Jakarta, kamu tahu", ujarnya diantara suara dengkuran keras di kamar kelas tiga berisi lima pasien dan empat penjaganya. 
"Aku sudah telepon mereka. Dan mereka maklum akan keadaanmu, kamu bisa menyusul"
"Kenapa kamu lakuin ini? Kenapa malam itu kamu yang menyetir"
"Itu bukan salahku! Mob..."
"Aku ngantuk, aku mau tidur, kalau kamu besok mau pulang, pulang saja, aku bisa sendirian", ia memotong kata-kata penting yang kupikir akan merubah pikirannya. 

Mobil itu yang menabrak kita, bodoh! Dan supir-nya yang cuma membuka jendela-nya sejenak. wajahnya kotak dan pesok kedalam mirip yakuza. Bangsat itu menoleh sebentar kearah kita, pada darah kita yang bocor diatas aspal. Selanjutnya dia pergi meninggalkan dua korbannya tergeletak seperti sapi yang baru dihabisi tukang jagal. 

Kucoba menjelaskan hal ini lagi keesokan harinya. Kamu tetap menyuruhku pergi.

* * *

Sampai dengan hari ini, tiga hari setelah kedatanganmu dari Jepang selama tiga bulan. Kamu berjalan melewatiku di kampus seakan aku transparan, tak terlihat olehnya. Ini bukan kali pertama. Kurasa aku kehilangan sahabatku. Tak ada percakapan tentang kejadian malam itu. Selamanya dia menganggap aku yang salah. Selamanya dia akan menganggapku sebagai orang yang pernah membunuhnya, meskipun dia hidup lagi. 

Ya, aku kehilangan sahabatku. Mungkin tawa kita hanya bisa tertinggal di tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Mereka akan tetap disana bagiku, tapi bagimu semua seperti asap rokok yang kamu sembur pada malam-malam kita tertawa bersama. Tak ada alasan bagimu untuk memperbaiki semuanya. Kenyataannya memang kamu lebih suka melarikan diri dari semua yang kamu benci dibanding harus repot-repot memperbaikinya. Kamu lebih menyukai hubungan yang rusak dibanding harus menyembuhkannya. Nyawa dari kepercayaanmu cuma satu. Ketika kamu sedang disakiti, kamu membuat orang yang menyakitimu lebih menderita. Kalimat terakhir barusan mungkin hanya asumsiku.

22.2.13

Berderinglah!




Selamat sore dunia. Halo langit sembab, sudah berapa hari kau menahan orang-orangmu untuk turun ke bumi. Mungkin para pawang hujan telah menghalangi agar tak satupun tetesan kecil yang rapuh terjun. Demi satu pernikahan atau dua di hari Sabtu atau Minggu. Pada akhirnya, puncak kebahagiaan itu telah berlalu. Senin kembali datang, dan langit kembali sembab. Kalimat yang panjang tentang cuaca mungkin sedikit sama dengan perbincangan basa-basi yang kikuk. Namun setidaknya seperti itulah aku saat ini.

Mungkin aku bukan orang yang sangat tergila-gila dengan hujan. Bagiku tetesan air yang menempel di jendela akan tetap membuat segalanya terlihat sayu. Sama seperti telepon genggam-ku yang tergeletak kedinginan di atas meja kayu, berbaring bersama buku-buku. Layarnya tak berkedip selama aku memandanginya, satu jam ini. Aku menunggumu. Kamu bilang sore ini ingin mendengar suaraku. Sudah  kunyalakan komputer-ku dan mengecek mungkin saja kamu sedang aktif di sosial media. Nampaknya kamu sudah meninggalkannya seperti cucian kotor. Semoga kamu tidak berniat membuatku seperti itu juga.

Pertama kali mendengar kamu akan pindah keluar kota, aku hanya terdiam. Sehari sebelumnya, kamu mengajakku ke semua tempat yang pernah kita kunjungi. Kamu juga bercerita panjang lebar tentang siapa saja yang ada disana saat kita melakukan hal-hal bodoh. Kita selalu sepakat, bahwa hal bodoh bukanlah sesuatu yang harus diingkari, setidaknya cukup untuk dikenang. Saat itu kamu menarik tanganku dengan tergesa-gesa seakan ingin aku mengikuti langkahmu dan jalan pikiranmu. Bahwa semuanya akan tetap sama walaupun akan ada banyak hal diantara kita nanti; jalan tol, pepohonan, padang rumput, rumah-rumah, juga genangan air asin. Semuanya tidak cukup kuat untuk memperlemah radiasi diantara kita. 

Ini sudah hampir enam bulan, Fer. Matahari sudah tak lagi kuat meneruskan sinarnya sampai sore hari. Ini bukan matahari sore yang menjadi saksi di saat terjadinya perpanjangan jarak diantara kita. Kamu menekan kedua bibirmu kemudian tersenyum. Hanya saat itulah aku merasa matahari masih akan menemaniku, setidaknya kamu menitipkan pesan agar ia terus menjagaku selama kamu jauh. 

*Telepon berdering*

Akhirnya, telepon genggamku berkedip! Perasaan mendesir-desir itu musnah ketika kuintip layarnya.

"Halo"

"Kamu nggak lupa 'kan? Besok kita ngerjain konsep dekorasi acara di kampus?", seseorang di seberang.

"Mmm, yah. Kan kamu bisa kabari lewat sms?"

"Mmm, Aku berusaha jadi koordinator yang.."

"Yang punya banyak bonus pulsa, dan bingung cara menghabiskannya"

Yah, itu tadi Toni. Dia suka mendengar suara banyak orang lewat telepon, lalu menebak apa yang mereka rasakan saat itu. Menurut Toni, aku butuh mengedipkan kelopak mataku sedikit lebih cepat. Orang yang merenung cenderung akan memandang satu benda dalam waktu yang lama. Telepon genggam ini mungkin sedang malu kuintimidasi. Mungkin juga ia sedang cemburu pada Ferdi sehingga memilih untuk mengirim nada sibuk daripada suaraku. Ayolah, kemarin Ferdi bercerita tentang perjalannya ke beberapa pantai di pulau tempat ia tinggal. Aku ingin mendengar lebih banyak lagi, misalnya tentang seperti apa bentuk bentos, bulu babi, atau ikan badut. Bukan, mungkin bukan itu. Apakah kamu tidak bosan dengan kata 'baik-baik saja'. Jarak mungkin telah mengeliminasi segala perbedaan yang seringkali kita perdebatkan. 

Kurasa banyak juga hal yang hilang terbawa dengan berbagai benda yang ada diantara kita itu. Beberapa hal seperti bibirmu yang bergaris serong ketika sedang kecewa, alismu yang berjingkat ketika sedang menggodaku, gigi tambahanmu yang manis, semuanya tergantikan oleh tanda titik dua sebagai matamu, kurung tutup atau kurung buka sebagai bibirmu, kurung kurawal sebagai kumismu, huruf p untuk memperlihatkan lidahmu, huruf D ketika kamu sedang bahagia. Karakter elektronik telah menggantikan bagian-bagian wajahmu. Suaramu di-korupsi juga oleh kemiskinan sinyal. 

*Telepon berdering lagi*

Halo Ferdi. Kamu mau berteriak pada pantai di hadapanmu? Mereka memang tak akan menyampaikan suaramu padaku. Tapi airnya bisa saja direkrut untuk menjadi siklus dan turun di jendelaku. Sehingga suaramu akan terpecah dan berbisik-bisik sebelum aku tidur.

"Halo, iya-iya aku bisa dengar suaramu. Eh, mmm... aku pulang minggu depan"

Semoga air hujan disini kamu beri pesan untuk mendinginkan rinduku, saat nanti kamu pergi lagi. 

***

#np Jagostu-Telephone

18.2.13

Halo Gadis Bibir Ganda



Pagi masih sedikit gelap ketika kutinggalkan rumah. Sama seperti bakul sayur keliling yang wajahnya terlihat mistis kebiruan terkena cahaya langit subuh. Ia menyapaku dengan senyuman sangat manis, rambut gondrong-ku setengah kusibak pelan. Sayangnya si bakul sayur seorang laki-laki. Aku berjalan terpincang-pincang menuju pangkalan bemo dekat rumah. Karena ini hari Minggu, maka terlihat banyak lansia memutar-mutar otot persendian. Biasanya jam segini aku sudah berpakaian cantik pakai sport bra kemudian lari-larian keliling kecamatan. Yah karena pembukaan yang cukup random tanpa kejelasan jenis kelamin, perkenalkan namaku Sukidi, singkatan dari Suria Dwiki Setiadi. Buat yang baru kenal, jangan coba menduga-duga kalau aku imigran gelap asal Suriah. Hari ini aku harus menjalankan misi penting tugas kuliah untuk menulis tentang kerajaan Majapahit. Sang dosen berharap kami berkunjung ke situs-situs yang berkaitan dengan kerajaan Majapahit serta menunjukkan bukti foto kami pernah kesana. Yah, nanti bakal kukirim fotoku pakai songkok bareng satpam museum. Beberapa teman-teman perkosa (persahabatan kompak selamanya) sudah mencuat dengan foto-foto mereka di media anti-sosial. Mereka sempat mengajakku naik sepeda motor, namun apa daya kaki-ku masih terluka pasca-kecelakaan. Maka kuputuskan naik kendaraan umum bersama teman-teman persami (persahabatan sesama mami), terdiri dari wanita-wanita ber-gincu tipis dengan alis dan bibir setengah berjingkat agar terkesan eksotis. Menarik bisa mengenal makhluk-makhluk ini, namun ada satu yang cukup menggelisahkan sukma. Seseorang diantara mereka bernama Atundh (sebut saja) yang akhir-akhir ini cukup agresif, reaktif, serta menginvasiku. Semoga garuk punggung yang satu ini nggak jadi ikut.

Setelah menuruni bemo biru, satu kali naik bis kota, maka sampailah di Terminal Bungurasih. Kami janji ketemuan di dekat peron. Kutengok sejenak jam tangan-ku, sudah jam 6 pagi, mereka pasti sudah sampai. Jam segini sudah wajar kalau terminal terlihat sangat gaduh, apalagi di hari Minggu. Sangat berbeda ketika aku singgah ke sebuah terminal di antah berantah Jawa Timur beberapa bulan yang lalu. Itu terminal kasihan, semacam lagi menjalani siksa kubur. Sebagai orang yang suka jalan-jalan, rasanya sudah biasa dengan macam kericuhan bau, mulai bau manusia, bau bus, dan asap rokok. Aku-pun merasa nggak yakin para persami ini bisa bertahan dengan kondisi ini. Namun aku percaya, mereka adalah wanita perkasa yang mampu mendongkrak ban bus saat bocor. Tapi hatiku masih sedikit was-was, takut akan kehadiran Atundh. Sedikit saja kulihat seuntai rambut berkuncir kabel telepon warna hijau muda di udara, habis sudah kebahagiaanku hari ini. Dia itu ibarat dementor, bisa menghisap harapan hidup anak bangsa. Awalnya kulihat sekumpulan ibu-ibu sedang bertukar rantang di dekat peron, kuamati lagi dengan seksama.

"Kidi ganteng...", Odyta menyapaku duluan.
"Eh cakep, pagi-pagi udah wangi aja, mau jadi penghulu ya", Arila menambahi.
"Hai manis, abang boleh pinjem bando? ya ampun... Abang kepanasan"
"Hai semuanyaaaaa", mati! suara jamur merang nih kayaknya
"Eh, Atundh", Odyta menyambut.
"Eh Kidi", senyumnya merekah ke arahku. Aku butuh rencong, clurit, gergaji mesin, pisau cukur, gunting rumput, mercon banting, apapun yang bisa bikin aku enyah dari hadapan perempuan ini, duh. 
"Hai... tun!"

Tujuan kami adalah Museum Trowulan di Mojokerto, tapi kami menumpang bus jurusan Madiun supaya gampang dilempar ke pinggir jalan. Karena menggunakan kendaraan umum, maka kami memutuskan ke Trowulan saja tanpa berkunjung ke situs Majapahit yang lainnya. Di Mojokerto situs-situs kerajaan besar ini tersebar di beberapa wilayah. Kami juga berpesan sama paklik kernet, kalau sudah sampai di Trowulan mohon kami mohon segera di seret ke pintu dan di-ketapel mirip Angry Birds. Di bus aku duduk bersebelahan dengan Odyta yang terlihat sangat kumus-kumus hari ini. Kami saling mengobrol dengan menjerit nestapa akibat suara bus yang mengerang keras.

"Odyt.. minta tisu dong, bawa nggak?", sekepal kepala muncul dari belakang, dengan rambut lurus menggerayangi mukaku yang suci.
"Ehm, ngga bawa tun"
"aduh gimana nih, telur puyuhnya ada yg kurang mateng, pecah, trus kuning telurnya nempel di celana aku. Aduh ini celana item lagi, jadinya keliatan kalo kotor dong ah, gimana ya?"
"kamu bawa telur puyuh"
"enggak, barusan beli. aduh gimana dong Odyt? baru ganti lagi nih celana. aduh ngapain ya tadi beli telur puyuh juga"
"Yaudah sih tun.. kaos kamu kan panjang, kalo berdiri juga pasti ketutupan"
"Uggh, sebel deh. Ngapain ya tadi. Nggak mau jadi kayak gini"

Oke, kenapa perempuan bisa jadi segitu terluka-nya akibat noda telor puyuh. Anehnya ini anak nyata dan gimana kalau nanti diselingkuhin? Pasti bakal ngurung diri dalem kulkas kalau nggak mainan kompor gas. Duduk di sebelah Odyta lumayan bikin tentram, meskipun kericuhan masih terdengar di belakang yang dari tadi sepanjang perjalanan sudah ngomongin banyak hal, mulai mantannya, makanan yang pengen dia makan sekarang, dokter, puskesmas, penyakit kulit, sampai berapa harga kluwak di pasar. I'm a good listener, but this one is not worth to be heard. Tsaahh! Dibuka ya kamus bahasa Swaziland-nya. Oke, mari berusaha menenangkan diri dengan berpikir positif, tarik nafaaaaas, keluar, keluar, keluar, arwah jahat keluar. 

Dari tadi aku sudah menghitung ada lima gelintir pengamen yang keluar masuk bus dan mulai menjadikan bus ini sebagai acara musik lalala yeyeye. Biasanya, kalau sedang menempuh perjalanan semacam ini, aku menyiapkan beberapa recehan buat pengamen, tapi berhubung tidak bawa, pura-pura tidur adalah solusi terbaik atas kemelut ini. Bodohnya lagi, sebulan yang lalu naik pesawat malah membawa recehan banyak. Pengamen di pesawat turunnya lewat mana bu? Sesampainya di penghujung Krian, Odyta malah tersungkur lemah ketiduran.

"Ayo mas! Trowulan, Trowulan yo!", pak kernet melambaikan bibirnya ke udara. Tak ada pilihan selain mengguncang Odyta.

Kami turun tertatih-tatih akibat pantat yang kelu. Odyta setengah mengantuk digandeng oleh Arila. Semoga makhluk berisik satunya nggak berharap kugandeng juga. Bangunan di depan kami mengawasi wajah kami yang tentram diserbu udara segar. Kami-pun bertanya pada seorang satpam manis yang sedang duduk-duduk menghirup kopi.

"Pak, bener yah ini museum trowulan?"
"Loh, bukan. Musium-nya bukan di sini dek? Masih satu kilo-an lagi lewat sana", ketiaknya ngangkat dan menantang.
"Waduh, naik apa ya pak?"
"Jalan bisa, naik becak juga bisa,deket kok, tinggal lurus belok kanan"

Aduh, kenapa bisa salah tempat begini. Harapan palsu! Kami-pun berjalan lagi dengan terseok-seok memandangi jalanan yang ramai seakan mengejek "Nyasar ya lu". Sedangkan kaki-ku apa ya bakalan kuat jalan segitu jauhnya.

"Aduh masih jauh ya, gimana dong males banget jalan nih", oke ini baru lima meter. Siapapun tolong bawakan solder.
"Alah cuma sekilo doang", 

Odyta yang masih ngantuk aja masih terlihat setegar batu karang. Weits, ngantuk sama pasca-kecelakaan itu beda lho. Maunya naik kendaraan umum biar nggak capek, ini malah jalan satu kilo. Nyampe sana ini perban pasti udah pada berguguran tinggal tulang aja ini kaki. Becak juga tak satu helai-pun yang lewat. Seorang bapak-bapak manis sedang duduk di teras rumahnya saat kami lewat.

"Pak, nyuwun sewu, mau ke museum Trowulan bener lewat sini pak", iseng aja nanya ketimbang nyasar ke pekuburan.
"Iya dek, tinggal lurus belok kanan, dedek mau kesana?", tuh kan manis banget.
"Enggak om, mau ke sumur bor dimana ya?", lagi-lagi dibalas senyuman manis.
"Saya anterin aja naik motor, tapi duapuluh ribu ya dua kali angkut", matanya terlihat sedang menghitung jumlah kami. 
"Gimana?", tanyanya memastikan.
"Eh, bentar ya pak", bapak tadi terlihat menyingkir sejenak sambil pura-pura nge-lap motornya.

Kami menjauhi bapak tadi sambil berbisik-bisik mesra.

"Gimana kid, kamu kan cowok, kamu yang mutusin deh", Arila muncul dengan wajah kalut
"Oke kita putus"
"Aduh, kamu aku jitak loh ya! Kita tetep jalan, naik becak, apa naik om itu?", Atundh mulai lamis.
"Pikirin kaki kamu kid! Jangan mikirin duitnya, nanti kita urunan"
"Oke deh"

Kemudian kami saling menumpuk tangan sambil meneriakkan jargon persami, eh bukan ya.

"Oke, kami terima bapak!"
"Saya diterima?", trus bapaknya sujud syukur. Ini cerita apa sih sebenernya.
"Dua puluh ribu ya pak! Eh, nggak boleh kurang"
"Jaraknya lumayan lho"
"Lima belas deh pak ya"

Kami-pun berangkat bergantian digonceng bapak tadi, aku dengan Odyta, lagi-lagi Alhamdulillah. Atundh berangkat duluan dengan Arila.

"Eh ril, kamu duluan aja, aku nggak mau ngangkang banget", duh apa sih. 
"Eh, bentar dong, kamu agak majuan dikit ril, dikit aja, nah gitu"

kami menghela nafas panjang sesampainya di depan museum, suasananya sepi, dan lagi sepanjang perjalanan kami melewati rumah-rumah yang sepi, tentram, dan damai seperti nggak pernah ricuh, nggak ada pedagang ember yang berisik, satu-satunya makhluk yang berisik saat ini ya cuma Atundh. Arila mulai mepet-mepet di sebelahku karena sepertinya sudah menahan luka yang menahun bersama Atundh.

"Kid, yang sabar ya"
"Yang ada kamu yang sabar Ril"
"Maksudku, kayaknya Atundh suka kamu deh. Dia emang impulsif anaknya, tapi hari ini kok nggak masuk akal. Kayaknya gara-gara ada kamu"
"Nih, dengerin ya ril, anak kayak Atundh itu kayaknya nggak cuma sama aku dia kayak gitu. Suratan takdir yang bikin dia kayak begitu"
"Mungkin gara-gara dia baru putus ya"
"Nih, kalau orang habis putus biasanya nggak secepet itu sok-sok cari perhatian ke orang lain. Pasti lebih hati-hati dulu sambil move on, itupun kalau niatnya move on, kalau enggak juga ga bakal separah itu juga Ril"
"Yah, hari ini kamu yang sabar, harusnya kamu kesini bareng temen-temen kamu aja"
"Niatku itu cuma pengen macak gembel, aku kangen naik bus, dan aku nggak tau kalian ngajak garuk punggung itu, kalian bilangnya udah putus hubungan sama makhluk halus kayak gitu", Arila kelihatan merasa bersalah, akhirnya aku cuma menepuk-nepuk pundaknya pakai sekop biar dia lega. 

"Kidi, bisa tolong pegangin tas akuh nggak, aku mau benerin sepatu nih", Odyta dan Arila sudah berkeliling, saatnya ngerjain ini biji nangka.
"Eh, Atundh"
"Yah?"
"Kamu suka aku ya?", wajahnya langsung berubah jadi ungu kayak ketabrak becak mesin.
"Emm... enggak tuh, ih kamu kok gitu sih, ge-er banget", orang yang salah tingkah itu memang beda-beda reaksinya, ada yang cuma diam tapi di dalamnya berasap, ada juga yang langsung memperagakan senam kegel, aerobik, SKJ 2000 sampai SKJ 3000 kayak anak ini. 
"Habis kamu suka cari perhatian ke aku sih, aku kan jadi salah tingkah", senyumnya merekah sambil sok ngambek, kalau aku suka dia pasti aku bilang 'ih lucunya'. Tapi ini situasi yang berbeda. 
"Tuh kan kamu ge-er banget, liat deh! lagian siapa juga yang suka kamu"
"Aku cuma mau ngasih tau sih, kalau kamu suka aku, maaf ya, soalnya aku nggak suka kamu"
"Ih apaan sih, kamu... lagian nih ya aku kan baru putus... *bla bla bla sensor bla bla bla bla sensor sensor blah blah*

Kalau saja arca-arca ini bukan benda bersejarah, pasti udah kulempar ke bibir ini anak. Berisik.