17.2.13

Sorority, Bestfriends Forever, xoxo, Syubidupampam


Jadi ceritanya, kemarin baru saja stalking blog-nya nyai. Pantes aja selama ini ngerasa kayak ada yang kurang sama blog-ku. Ternyata oh, lupa cerita tentang kita-kita yang seharian lagi centil merekah. Tanggal 22 Januari 2013, kami asyik bergantungan ria dan berakhir dengan pajamas-an bareng, ritual yang fardhu-ain bagi perkumpulan ibu-ibu ini. Biasanya sih obrolannya seputar dongkrak, mesin dorkas, cuci salju, busi, onderdil, dsb. Ya, kami memang sedang buku bisnis perbengkelan kepribadian *opose*. Biasanya selama pajamas kami akan saling terbuka satu sama lain tentang hal-hal yang mengganjal di hati. Namanya juga jalinan pertemanan, rasanya yang namanya persahabatan ya ndak bisa afdol tanpa adanya pertikaian, perseteruan, per-tikung-an, loh ending-nya. 

Intinya, maksud dari pajamas-an versi kami yaitu saling menerima kritik, saran, uneg-uneg supaya lebih baik kedepannya, Amin. Dan siapa sih penemu kata uneg-uneg ini, kayaknya didenger nggak enak, ditulis juga nggak enak. Oke, ganti, hal yang mengganjal, ganjal pintu, ganjal kursi. Nggak cuma itu, kami juga akan saling memuji "Ah stop it you!" kalau ada yang melakukan progress besar dengan baik sampai semua wajah bersemu merah. Pokoknya semuanya saling mengomentari satu sama lain. Mendapat pelajaran bermakna juga, dengan kumpul-kumpul kayak gini, kita yang biasanya di kampus sibuk sendiri-sendiri dengan konsentrasi masing-masing akhirnya bisa begejegan kosroh dan berseloroh bersama lagi. Di sela-sela perbincangan ini, kami juga sering membahas orang tua serta rencana-rencana kedepan yang sering diperbincangkan pemuda-pemudi usia kritis, yaitu 20 tahun keatas. We will never forget these days, girls :* Saatnya pamer foto! :))



asik dikelek-i enjelika, hangat

8.2.13

Kunjungan Keluarga ke Kebun Binatang

overexposed horn
Pemuda-pemudi masa kini pasti sangat menyukai aktivitas bernama bergantungan keluar (hang out). Hal ini dilakukan agar melupakan segala kenestapaan yang kerap kali menguasai diri *naik genteng, tarik-tarik antena TV, terjun*. Namun, mereka dengan kondisi kejiwaan yang normal (nggak bilang mainstream lo ya) akan memilih untuk berjalan-jalan di mall, makan setik (setik golf), mimik gurin, atau foto-foto di dalem kotak pos (photobox). Kami adalah tiga orang yang mulai terseok-seok dalam menjalani lembaran takdir semester berikutnya, tiba-tiba sepakat untuk mengunjungi sanak saudara, famili, rekanan, kemenakan, cucu, cicit yang berada di Kebun Binatang Surabaya. Maka teman saya hari ini adalah Terung dan Astuti, ehehe Wina maksudnya. 

Jika kami berkumpul, maka yang terjadi adalah rembes, tulang pipi kaku akibat mangap-mangap jama'ah alias tertawa. Baru datang, kami sudah mengelilingi kebun ini dan disambut dengan lagu-nya Judika yang jelas memiliki efek samping untuk menclok di tembok semacam cicak. Selanjutnya kami membahas tentang prospek masa depan hewan-hewan ini yang setiap hari di setel-in lagu macam begini. Pantas saja waktu kami membelok ke kandang beruang madu, ada yang tergolek tak berdaya di pojokan, ada juga yang gelisah dan kalut sambil mondar-mandir di pinggir-an kandang. Kami yang manusia saja nggak bakal kuat dengan derita hidup mendengar lagu-lagu galau setiap hari. Tapi secara serius, kami kasihan dengan kondisi sanak saudara, famili, rekanan, kemenakan, cucu, cicit kami yang ada di sana. Dengan kondisi kandang serta  cuaca yang sepanas ini di Surabaya, pasti benar-benar menyiksa. Kecuali si Onta yang kayaknya hidup dengan aman, damai, dan rajin mengunyah. 

Hari ini diawali dengan mendung yang melankolis sayu, kemudian berubah menjadi gegap gempita. Pada jam sholat Jemuah kami berlindung di depan kandang kuda nil sambil melihat tupai yang bebas dan pandai meloncat-loncat di atas pohon, seperti pepatah Smart smart squirell, finally fall down also #peribasaenglish. Kebun ini memang sangat romantik suasananya, daun-daun rimbunnya menaungi kami siang itu. Bercerita panjang tentang hal-hal super rembes, juga kenapa akhir-akhir ini aku dan terong sering menulis tweet "opo sih" atau "uopo ae" ditambah tanda titik-under score-titik. Sungguh pembicaraan yang sangat penting dengan urgensi tinggi. Lalu ada hewan semacam antelop yang tiba-tiba ribut kejar-kejaran. Dengan reflek sangat hina dan suara keras aku bilang "lihat tuh! mama tolong aku mama, aku mau diperkosa" << mencoba men-dubbing si antelop tadi tanpa menyadari di depan kami (agak jauh) ada ibu-ibu dengan anaknya. "wuh, ngawur ana arek cilik ikoloh", seru Terong. Kami pun cekikikan, lalu keluarga itu akhirnya melipir pergi. Akhirnya sejak itu, kami mulai mengerem bibir-bibir yang lamis jika ada anak kecil. Menemukan apa lagi ya? Ada orang pacaran juga sampai ndusel-ndusel di bawah payung merah, sampai dari jauh yang keliatan cuma cowoknya, entah ceweknya lagi dimana, mungkin nyemir-in sepatu si cowok, atau menclok di atap payungnya. Kebun binatang ini bray! 

Hari ini, kami cerita banyak hal, haha. Sore yang sangat manis, matahari keemasan, kebun binatang, es krim, teman-teman yang gagal logika, lengkap sudah. Semua orang mungkin menyukai kebun binatang, demikian juga kenangan masa kecil yang ada di dalamnya. Melihat kondisi-nya sekarang, seakan-akan semua masa itu tiba-tiba hilang. Huf haaah langsung sedih. Kinda' miss the glory of yours!!! :) Juga semoga Tuhan menghapus dosa kami membicarakan orang yang sama, sudah sepanjang episode-nya Tukang Bubur Naik Haji. Semoga orang tersebut disadarkan dari tindakannya serta pilihan hidup ambigu yang dipilihnya *halah opo sih* See you again, zoo!

ignored horn
popsicle

13.1.13

Aven x Prionsa

                                       
Setiap orang punya cerita masa kecil yang super polos, manis, dan pasti sulit terlupakan. Begitu pula denganku, ketika masih hidup di bawah pohon mangga yang rimbun dan dikutuk untuk jadi produktif berbuah. Suatu sore yang bahagia, aku sedang asyik diterpa angin sepoi sambil tiduran di bawah pohon. Tiba-tiba terdengar ribut suara para remaja kampung yang saling adu kaki di tengah gang lengkap dengan suara gedebak gedebuk bola. 

"Ja**ok" mbeleset c*k", jackpot mantap semakin membangunkanku.

Sang pembuat kata-kata manja itu menyadari kekagetanku. Dengan senyum merekah ia melirikkan matanya pada anak laki-laki yang berdiri canggung di sampingnya. Tidak lupa dengan gerakan alis yang naik turun macam orang yang memperbaiki genteng tapi tiba-tiba kebelet pipis saat di atas. 

"Feh! Eh, ada yang mau kenalan lho!", teriak Joni.

Hari itu pertama kali melihat Prionsa. Nama aslinya sangat dingin seperti sebuah negara di utara Irlandia, ia sangat berkorelasi dengan es. Paras yang sangat jarang ditemukan di kampung bersawah awal abad 20. Wajahnya lebih manis dari es wawan rasa soklat, bertolak belakang limapuluh kilometer dari paras Joni. Umurku baru sewindu dapat bonus 12 bulan, tapi rasanya baru aku yang mengalami ini. Setiap keluar rumah selalu melirik ke rumah tetangga baru itu. Kadang kami berbagi aktivitas bersama, mengantri bakso di malam hari, bersepeda bersama, berjumpa di toko kelontong juga. Kadang aku melihatnya duduk-duduk sambil menyanyi diiringi gitar kakak Joni dikelilingi anak laki-laki lainnya. Karena keseringan bermain sama Joni, aku jadi jarang main lagi gara-gara malu ada Prionsa. Joni adalah perwakilan mulut super besar yang suka menggojloki sampai muka korbannya merah kebiruan tanpa kekerasan. Pernah juga ketika Prionsa duduk-duduk dengan Joni lalu melemparku dengan kerikil sehingga aku menoleh ke arahnya. 

Kami masih belum bicara satu sama lain, sampai suatu ketika ada sepucuk surat beramplop airmail merah dan biru duduk manis di bangku kelasku. Kubuka pelan-pelan sambil waspada, takut isinya surat panggilan orang tua atau tagihan ongotan yang baru kubeli kredit sama Fida. ternyata isinya hanya selembar kertas epek-epek dengan tulisan kruwel-kruwel yang jelek tapi sangat lucu. Kubaca habis surat itu sehingga di akhir surat itu ada tulisan besar-besar: "I Love You, Ofe!. Salam manis, Prionsa".Ya, di jaman itu masih belum musim salam model xoxo. Wajahku tak kuat menahan debuman jantung yang sedang tidak umum. Dari kejauhan terdengar suara kikik-an Yanto, dengan senyum selebar senyum kuda ia mendekatiku.

"Cieeeeee.... Ofe"
"Kamu kok tau aku kenal Prionsa? Atau jangan-jangan ini kamu yang nulis ya?"
"Cuih, ngapain aku lope-lope sama kamu? Prionsa 'kan teman ngaji-ku? Kalau butuh jasa surat-menyurat, hubungi aku ya, biaya-nya bisa pakai apa aja, es wawan, tahu isi, es teh, bakso, sate usus, terserah deh", ujarnya sambil mengedipkan mata.

Sejak saat itu, kurir cinta sudah aktif melaksanakan tugas-tugasnya. Lama-kelamaan aku dan Prionsa semakin sering terlihat ngobrol bersama di emperan rumahnya, main-main dengan adiknya, juga kenalan dengan ibunya. Aku dibawa ke kamarnya juga, jangan salah, cuma buat belajar IPS kok, yakin deh. Prionsa ternyata tidak begitu humoris, ia anak yang memang keren, kalau jaman sekarang boleh lah mukanya di mirip-kan sama Elijah Wood. Tapi di balik kekerenannya, ia biasa saja, ya romantis juga boleh. Sampai di suatu Rabu sore seorang makhluk lagi datang dan Joni mulai berkoar-koar lagi.

"Iku ta areke, Ven?"

Sore itu aku sedang lewat di depan rumah Joni setelah disuruh beli minyak tanah. Ada seorang anak lagi dengan wajah yang tidak kukenal. Senyumannya terlalu murah untuk diumbar-umbar. Selama beberapa hari setelahnya, Prionsa entah menghilang kemana. Aven jadi sering berkeliaran sambil kami bersepeda bersama. Ia juga akhirnya akrab dengan anak-anak di kampung sambil bermain bola, dan main gitar bersama Joni dan kakaknya. Tiada perkenalan yang sangat resmi dengan Aven. Hanya saja, ia sangat mudah membuatku tertawa. Entah memuji atau setengah meledek, kalau aku sedang ngambek, dia akan menjulukiku mirip Sherina. Waktu itu sedang naik daun naik pohon sebuah film berjudul "Petualangan Sherina". Kami jadi sering menghabiskan waktu bersama. Kadang aku duduk-duduk, lalu Aven main burung dara punya Joni (nah ya, apalah itu), memanjat pagupon di atas rumah Joni.

"Kamu rangking berapa sih Ven di sekolah?"
"Rangking satu dong"
"Beneran? Anak kayak kamu?"
"Gak percaya? Tanya mamaku dong!"
"Gak mungkin"
"Yaudah ga percaya, kamu rangking berapa di sekolah?"
"Rangking lima"

Menyenangkan juga bersama Aven, ia sangat lucu. Sering berdebat-debat manja juga, euwwwh pletasss! Lalu aku lupa ada Prionsa. Suatu hari, Joni datang dengan muka datar tanpa ekspresi, sebuah pertanda akan terjadi bencana alam. 

"Kamu kok jadi deket Aven? Kamu suka Aven ya?"
"Enggak, kenapa?"
"Kamu pilih mana? Aven apa Prionsa?"

Aku berpikir keras, ini pertanyaan yang sangat kontemplatif dan amat kompleks. Sulit untuk diungkapkan.

"Err... Aku juga suka Aven"
Angin bahorok berputar-putar pada wajah Joni. Selanjutnya sudah jelas apa yang terjadi, ia datang ke Prionsa sambil mendobrak pintu.
"Lapor komandan"
"Ya, ada apa"
"Ternyata Ofe juga menyukai Aven, komandan"
"Timak dungkin! Tidak mungkin"

Beberapa menit kemudian Komandan Prionsa membanting kursi dan meja sambil menyabet gelas dan piring ke tembok. Selanjutnya disambut jeweran kuping oleh ibunya. Sejak hari itu, Yanto tidak memberi kabar apa-apa selain sepucuk surat terakhir dari Prionsa yang berisi salam perpisahan. Kemudian lagu dari Rhoma Irama berjudul Malam Terakhir menjadi soundtrack resmi peristiwa tersebut.

Aven ternyata harus segera pergi sementara dengan sekuat tenaga aku memohon maaf pada Prionsa. Ternyata Prionsa memilih gadis lain yang lebih kalem dan baik-baik dibanding aku yang hobi bersepeda dan sering jatuh, bundas terlunta-lunta. Tapi Aven adalah cerminan lelaki yang sangat lucu, cerdas, dan gagal pikir. Sangat bertolak belakang dengan Prionsa yang serius, meski tampan. Prionsa menjalin tali asmara dengan yang lain, Aven pergi. Hari kepergian Aven adalah tepat ketika ia menaikkan barang-barangnya ke mobil diikuti dengan dirinya sendiri. Kemudian kepalaku terpaku pada kaca nako ketika radio sedang memutar lagu Ari Lasso berjudul Hampa. Yah, akhirnya melepas Prionsa dan Aven. Dua orang yang sangat berbeda namun sangat berwarna. Sekarang kalian pasti sudah dewasa, dan prediksi Ofe menyatakan bahwa Aven akan tumbuh berkembang dengan paras seperti James Franco, selanjutnya Prionsa akan sangat tampan seperti Jonathan Bennett atau Reuben Elishama juga boleh.