Tampilkan postingan dengan label walk baby walk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label walk baby walk. Tampilkan semua postingan

27.10.12

Jelajah Kampung Peneleh Bareng Manic Street Walkers

Minggu pagi di Surabaya pagi itu (21/10) berkabut dikelilingi suara hewan-hewan hutan dan suara orang-orang yang menggigil di dalam tenda. Eh, salah deskripsi ya? Salah lokasi, mentang-mentang seminggu sebelumnya habis mendaki gunung, hehe. Sekitar pukul 05.30 sudah kriyep-kriyep di depan perpustakaan c2o, padahal biasanya masih menyebrangi lautan virtual di alam mimpi. Pagi ini, kami mau berjalan kaki, yeah! barengan Manic Street Walkers, sebuah klub pejalan kaki yang tersohor di Surabaya, hehe. MSW sering lho bikin   rute sambil jalan-jalan bareng sambil mengunjungi tempat-tempat seru di Surabaya. Kota kita tercinta ini kan punya trotoar yang lumayan cing cing ping, jadi sayang sekali kalau nggak dimanfaatkan buat jalan kaki. Nah, kali ini barengan Kak Kat, Mbak Tinta, Mas Firman, Ruth, Verlita, dan Nurul, kami akan mengarungi kampung Peneleh sambil melihat-lihat lokasi menarik seperti rumah kelahiran Bung Karno, makam Peneleh, sampai rumah HOS Cokroaminoto yaitu tempat Bung Karno dulu pernah menge-kos di sini. Perjalanan kami dimulai dari Alun-Alun Contong.

Plakat untuk mengenang Bung Karno serta penanda bahwa Peneleh dulunya pernah disinggahi Bung Karno 
Kawasan Peneleh ini merupakan daerah yang familiar buatku, karena setiap sebulan sekali selalu mengantar ibu untuk kontrol di RS. Mata Undaan, jadi pulangnya selalu lewat sini. Ternyata daerah ini cukup berpengaruh pada masa sebelum kemerdekaan. Nah, Peneleh dan sekitarnya ternyata dulu masuk ke dalam wilayah Keraton Surabaya, dan nama-nama di jalan sekitaran sini sesuai dengan aktivitas di tempat ini di masa lampau, Jalan Jagalan misalnya, karena memang dulunya tempat jagal sapi, ada juga Jalan Pandean yang dulunya banyak orang yang berprofesi sebagai pandai besi. Pada jaman penjajahan juga, kata Mas Firman daerah Peneleh ini diberi hak oleh Belanda untuk tidak di masuki Belanda secara bebas karena masih wilayah keraton. Hal ini tentu saja nggak dilewatkan begitu saja oleh bapak-bapak hebat yang sempat mengekos di rumah HOS Cokroaminoto, sehingga dijadikan basis berkumpul ini untuk membahas negara kita dan masa depannya. Fenomena yang juga unik di daerah ini adalah ketika masuk gang-gang, kita akan dikejutkan akan beberapa makam yang tiba-tiba muncul di tengah jalan, kadang posisinya-pun melintang.

Ini adalah rumah tempat kelahiran Bung Karno di Jalan Pandean IV/ 40.. Saat ini masih menjadi milik warga.

Makam Peneleh
Setelah singgah sejenak di rumah kelahiran Bung Karno, kami meluncur ke Makam Peneleh. Siapa sih yang nggak kenal tempat ini? Sejak dipakai banyak fotografer buat motoin model sih, akhirnya makam yang identik dengan serem jadi hemm... setelah lihat hasil potretannya, nah loh. Buat yang pengen lihat-lihat atau berkunjung ke Makam Peneleh, FYI pintu masuknya ada di balik Puskesmas Peneleh yang dulunya merupakan semacam kantor makam. Disitu kami disambut pagar besi yang tinggi mirip di film-film horor, hehe dan ternyata gerbangnya masih aseli. Jangan lupa sediakan uang untuk bapak juru kunci-nya. Kak Kat juga memfoto lapangan bola masih berada di area pemakaman disini beserta kambing yang sedang asyik leyeh-leyeh, bisa jadi sebagai perebutan ruang publik, hehe. Ketika berjalan dari gerbang terlihat kondisi makam yang masih utuh dan sangat megah  dengan hiasan-hiasan atau atap di atasnya, tapi semakin masuk ke dalam, kondisinya sudah makin mengenaskan dan semakin hampir rata dengan tanah karena kurangnya perawatan akan aset bersejarah ini. Di makam ini kayaknya juga bisa dibuat belajar bahasa Belanda, mehehe...

Rumah HOS Cokroaminoto

Nah, perhentian terakhir kami di rumah HOS Cokroaminoto yang terletak di Jalan Peneleh IV. Disinilah dulu para tokoh-tokoh bangsa seperti Muso, Semaoen, Kartosoewirjo, dan Sukarno pernah singgah dan berdiskusi bersama. Kami juga berkesempatan buat masuk. Ada juga atap atau loteng tempat mereka berdiskusi. Saat ini juga digunakan sebagai tempat aktivitas warga sekitar. 

Waaaah, seru banget jalan-jalan kali ini, yang tentu saja bikin jadi lebih bangga sama kota kita tercinta ini. Surabaya yang menyimpan banyak harta-harta yang asyik untuk dijelajahi! :)

20.5.12

Semi Vakansi: Cuban Rondo 18-19 Mei

Just arrived: tepar di C9





Akhirnya kami kembali datang menghantui Cuban Rondo. Mungkin tempat ini menjadi salah satu tempat bersejarah buat para warga EDSA. Karena tempat ini juga menjadi saksi resminya kita pertama kali jadi mahasiswa Sastra Inggris. Yak, semacam afdol-nya begitu. Kali ini kami datang guna melancarkan sebuah misi damai pembuatan video tentang Gathering Nite yang dibikin di tempat yang aseli. Dua hari satu malam yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Bedanya dengan GN adalah, kami dapat ground yang lebih tinggi dari ground biasanya, alangkah menderitanya kaki jenjang ini, sampai ragu untuk ikut scene inisiasi di air terjun Cuban Tengah. Serunya lagi waktu pulangnya merasakan dempet-dempetan naik bemo dari Terminal Landungsari ke Stasiun Kota Baru Malang. Sebuah bemo imut diisi 17 orang, yang 3 tambun dan yang 1 tiduran tertimbun bersama barang-barang bawaan. Ditambah lagi, barang bawaan gahar ini terdiri dari tikar, tas ransel, galon, tripod, dan tenda. Sudah begitu, kami hampir telat mengejar kereta. Untungnya kereta datangnya telat juga. Jalan-jalan yang melelahkan sekaligus unforgettable. 

aril-candra-odi-gondo-rei
Di depan warung Bu Tini: rambak (duduk)- fatur-farchan-mas feb (bawa tiker)-kakak angga (jiban pake jubah)-romce

6.5.12

Parade Melewati Jalan Gemblongan

Gefeliciteerd Surabaya! Oke, saatnya rehat sejenak sebelum minggu yang sakral dan minggu vakansi.Saatnya nonton parade. Kali ini mengajak bapak Djailan yang budiman dan terlihat sangat sintal sore ini. My best hang out partner ever. Berawal dari Minggu dini hari ada sebuah sms mesra dari @nyunsyarifah  (hehe) tentang parade yang bakal digelar hari Minggu. Kami janjian berjumpa di Delta, sialnya pas sudah mau belok ke arah Tunjungan, jalan di Praban sudah ditutup. Akhirnya lurus ke Bubutan, lalu Jalan Gemblongan, parade-nya sudah dimulai! Alhasil harus berpisah dengan teman-teman yang sedang stand by di Yos Sudarso. Ada juga @Cak_ariel plus @twykelala. Aku-pun bergerilya di Jalan Gemblongan saja sambil ber-live report bareng Nyun. Parade-nya keren sekalski. Namanya parade bunga, warna-warni menghiasi. Jalan yang lebar-pun menyisakan beberapa space sempit bagi para peserta parade. Saking banyaknya manusia berjejalan di sepanjang dan selebar jalan. Antusias! Ada yang bertegur sapa dengan temannya yang ikut parade, ada yang suka berkomentar, ada yang bersiul atau menggoda saat ada mbak-mbak cantik nan seksi lewat. Begitulah orang Surabaya. Spontan. Dari sini aja kita bisa lihat betapa kerennya budaya asli Indonesia. Cuma, yang agak heran ya. Kenapa di setiap parade atau karnaval di Surabaya selalu banyak marching band-nya? Dan lebih herannya, orang-orang yang berkumpul membanjiri jalan ini, setelah mereka pergi satu persatu, sampah sudah berserakan di mana-mana. Padahal acara ini cuma memakan waktu sekitar dua jam-an, segitu tak kuatkah hasrat orang-orang ini membuang sampah ditempatnya? Tapi, seluruhnya keren beet! Selamat ulang tahun kotaku tercinta! kalau kata komunitas sepeda tua yang ikut karnaval tadi, Goede Verjardaag!

Reog Ponorogo




marching band

29.4.12

Shutter Step Bersama Teman Sepermainan

Malam minggu yang awsem! Akhirnya terselenggara juga acara jalan-jalan bersama teman-teman sepermainan. Meskipun pelaksanaan agak jauh dari perencanaan. Semoga Shutter Step yang kedua lebih bermaslahat bagi rakyat banyak. Hahaha... Keturutan sudah keinginan si Maya untuk memotret Siola (Tunjungan City) di malam hari. Meskipun sudah bolak-balik lewat ini Jalan Tunjungan, tetep merasa bahagia meskipun di malam hari agak sepi krik krik. Haha. Ternyata di malam minggu begini, jalan ini ramai banget sama fotografer berlalu-lalang. Sayangnya, jalan-jalan kita harus berakhir akibat sewaktu kami ndeprok di depan Tunjungan City tiba-tiba ada kecelakaan motor, si ibu bapaknya ngga papa, tapi kasihan anaknya, si adek jidatnya berdarah. Intun jadi mama penyelamat, dan permen dari Aril berhasil menenangkan si adek. Karena Rambak yang paling tua, insting kebapakannya (ke-kakekannya) langsung muncul. "Wes rek, wayahe mandek iki, dikongkon mandek". Akhirnya kami semburat kemana-mana (gak gitu-gitu juga kali, hehe). Akhirnya anak-anak pada  melanjutkan makan dekat kampus, dan aku pulang (maklum sedang miskin, makan di rumah). Menurut telegram dari Maya, sisa malam itu mereka pada curhat-curhat galau tentang masa depan. Wish us all the best guys! :D

Untuk Shutter Step yang pertama, hadir 8 orang, selanjutnya pada mau bikin yang kedua gak nih? Hehe. Be free yah buat  yang punya saran pengen kemana selanjutnya.
candra-arik-me ^^-rambaks-maya-aril-nyun


Overall, terima kasih atas waktunya ya teman-teman. :) Semoga kita bisa jalan-jalan lagi. Salam sayang buat yang malam mingguan di tempat Lely; Tirce dan Lala beserta bulu mata anti badai mereka. Hehe... Semoga langgeng (senyum ala Aril).