31.1.12

Selamat Pagi Kakak


Kakak! Berulang kali aku meneleponmu, datanglah ke mimpiku malam ini. Kita akan membuat pesta kembang api, membangun tenda di halaman rumah, menyalakan api unggun, dan bernyanyi untukmu. Kita akan merayakan ulang tahunmu yang ke-23! Aku akan berlari memelukmu, memberantakkan rambutmu, dan mencubit pipimu saat kita berjumpa nanti. Aku baik-baik saja kak! kau selalu khawatir berlebihan tentangku. kapan kau bisa menganggapku dewasa jika kau terus menganggapku sebagai adik kecilmu. Kak! Aku ingin menanyakan banyak hal padamu. Misalnya, mengapa ayah memanggilmu Ogi dan mengapa ibu memanggilku Igy? Mengapa kau suka bermain lego dan basket? Mengapa kau suka makan burger dengan cara memakan rotinya dulu, mengapa ayah sering memotretku? padahal senyummu lebih manis dariku, aku juga lebih banyak diam di depan kamera. Aku juga ingin menceritakan banyak hal padamu. Misalnya, mengapa aku terlihat diam akhir-akhir ini?

Kak! Aku sedang bersemangat, mengapa kau tak menjawab telepon-ku? Aku ingin kau mendengarku, aku juga ingin dengar ceritamu! 

Kak, mengapa saat itu engkau pergi dari rumah?

28.1.12

Shuffling Week & Bumi Manusia



#1 Shuffling Week! 


Pelajaran yang bisa diambil dari kejadian yg terjadi sepanjang minggu ini adalah:

"Jangan lihat dirimu dari standar yang dipakai orang dalam menilai orang lain. Kita bisa menjadi standar versi kita sendiri dengan memaksimalkan apa yang ada dalam diri kita. Semua orang punya identitas mereka masing-masing, jangan menyamakan karakter, keinginan, dan cita-cita semua orang"

membaca Bumi Manusia yang sampulnya masih kayak gini


#2 Bumi Manusia, dedicated to Swikee

Buku ini terdiri dari 4 seri (namanya juga tetralogi). Urutannya adalah sebagai berikut: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Mengambil setting pada zaman penjajahan Belanda di Hindia alias Indonesia. Bercerita tentang betapa menderitanya orang-orang pribumi pada saat itu. Meskipun novel ini termasuk dalam roman yang bercerita tentang masa lampau atau sejarah, tapi kita bisa ikut merasakan emosi yang dirasakan oleh tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Bukan sekedar mengetahui sejarah, tetapi ikut merasakan sejarah itu sendiri.

Novel ini menceritakan Minke sebagai tokoh utama seorang siswa HBS (setingkat SMA) yang mengalami pengalaman hidup luar biasa sejak diajak temannya mengunjungi rumah Nyai Ontosoroh, kemudian terlibat cinta dengan Annelies, anak Nyai Ontosoroh. Dari sanalah ujian demi ujian dialaminya. Ia mendengar kisah tentang Nyai Ontosoroh yang dijual bapaknya kepada Tuan Besar Administratur untuk dijadikan gundik serta perjuangan Nyai Ontosoroh dalam mendirikan perusahaan Boerderij Buitenzorg. Nyai Ontosoroh adalah salah satu tokoh favoritku dalam novel ini (so far). Nyai Ontosoroh adalah seorang pribumi yang dijadikan nyai oleh seorang Eropa totok bernama Herman Mellema, yang berjuang dengan keringatnya untuk mendirikan serta mempertahankan perusahaannya. Cara berpikir Nyai Ontosoroh juga lebih maju dibandingkan wanita pribumi pada umumnya. Sejak bertemu dengan Nyai Ontosoroh pula, Minke mendapatkan banyak…

Tadi adalah review acak adul yang tiba-tiba kutemukan di sebuah dokumen word di laptop, meskipun sudah lama rasanya nggak membaca buku-buku bermutu, thanks a lot to Swikee atas pinjaman Rumah Kaca-nya, dan mungkin ada sedikit kesan-kesan nantinya tentang buku ini. Setidaknya, saya juga termasuk orang yang amat udik karena baru (AKAN) tamat membaca buku seri tetralogi buru ini, padahal membaca Bumi Manusia sudah sejak DUA tahun yang lalu, hahaha… Benar-benar udik. Lebih jelasnya, karena dasarnya aku menyukai pelajaran sejarah, semakin memahami bagaimana keadaan bangsa kita saat itu, maka kita akan jauh lebih bersyukur tinggal di masa kini, walaupun banyak orang alay-nya (hubungannya?), dan saya ketagihan pengen membaca lebih banyak buku lagi untuk liburan ini. 

22.1.12

Adikku Igy


Halo Igy, 
Aku baru saja membolak-balik sebuah album foto kecil di lemari tua, ketika kau difoto bersama ibu. Kau terlihat diam, tak pernah berubah hingga kau dewasa. Sekarang berapa umurmu? Mungkinkah sudah 21? Tentu saja belum, itu umurku yang seharusnya. Terakhir kali aku melihatmu berceracau tentang duniamu yang hampir jungkir balik. Padahal, sejak kecil aku percaya kelak kau akan menjadi seorang perempuan yang manis seperti ibu dan kuat seperti ayah. Kenapa tak pernah kau ceritakan padaku Igy? Kau hanya menangis sekali, itupun sudah lama sekali, menggigit bantal dan selimut semalaman. Aku selalu ingin memelukmu dan menanyakan apa yang terjadi. Kini kau tak pernah menceritakan secara lugas tentang masalah-masalahmu, yang kutahu semua orang menyuruhmu untuk bersabar. Sehebat apakah duniamu terguncang? Yang kutahu, kau hanya lebih diam dari biasanya. Kau tak pernah bernyanyi lagi sambil berteriak-teriak membangunkan tetangga, kau tak pernah menulis lagi, tak pernah menangis di depan cermin seperti dulu, bahkan tak pernah membaca buku bersama denganku. Kemana kau pergi Igy, seakan-akan yang kutemui tiap hari bukanlah kamu. 

Waktu kita sama-sama kecil aku selalu iri padamu, mengapa hanya kau yang diajak ayah untuk berpose di depan kamera, aku hanya duduk di pojokan kamar kita, menendang mobil-mobilan, memberantakkan semua mainan, karena aku cemburu. Ketika kau berhasil masuk SMP favorit, ayah dan ibu membelikanmu sebuah walkman untuk mendengarkan musik dimanapun kamu pergi, aku segan untuk menyentuhnya, takut mereka marah. Lalu kau membeli banyak kaset yang berisi lagu-lagu sendu, kadang kulihat kamu menangis semalaman karenanya. Tapi mengapa? Duniamu kan sempurna?

Aku tahu mereka Igy, orang-orang lain itu? aku sangat membenci orang-orang itu. Tapi kau selalu berpura-pura mereka adalah orang yang baik, dan diberi Tuhan kelebihan. Sadarlah sayang, mereka yang telah mendikte-mu seakan-akan kau harus seperti mereka. Kau bisa menjadi lebih, Igy. Aku mohon jangan teruskan ini, jangan dengarkan mereka. Mereka bukanlah orang yang menunggumu lahir ke dunia ini setelah berpuluh tahun lamanya, mereka bukan aku yang selalu tahu kamu menangis dalam hatimu, walau tak kutemukan jejak air mata di bantalmu. Igy yang kulihat saat ini bukanlah adikku sayang, keluarkan dia, aku mohon bebaskan dia. 

Lihatlah cahaya sore itu, mengintip jendela kamarmu, ingin menemuimu. Sayang kau tak ada di kamar sore itu. Kakak ingin ceritakan padamu tentang ayah dan ibu yang selalu menantimu pulang, yang selalu mendoakanmu, yang selalu mengusap keningmu saat kau terlelap, yang selalu membelikan banyak makanan sebelum kau pulang, yang selalu cemas ketika terdengar suara tangis dari kamarmu, yang tak pernah berharap kau akan membelikan mereka sesuatu ketika kau dapat rejeki, yang selalu mengingatkanmu untuk belajar dengan sungguh-sungguh, dan mereka adalah segalanya bagimu. 

Kau telah belajar banyak, kau telah peduli akan perasaan mereka. Lihatlah suara ayah yang mulai terbata-bata, cara berjalan ibu yang mulai pelan ketika menuruni tangga, sore yang kau habiskan di ruang tunggu dokter. Apapun kesusahanmu, mereka selalu ada untukmu. Kaupun ternyata begitu, yang selalu ada saat mereka membutuhkan pegangan, lalu mereka tinggal meraihmu. Aku bangga padamu Igy. 

Aku selalu mengingatkanmu dalam setiap tidurmu, mereka hanya punya kau, Igy. Itulah mengapa mereka tidak pernah memberiku apa-apa selain do'a. 

Aku hanya ingin kau keluar dari bayangan dari sisi gelapmu, dan berjalan menuju cahaya sore yang menembus ranting-ranting pohon. Aku akan mengajarimu bermain gitar dan piano, dan kau akan menyanyikan lagu untuk kita.

-Kakakmu, Ogi :)

19.1.12

Welcome to My Nest

Welcome to my nest, this is the place where I live in everyday. Pretty much like in a mess, when Indonesian talk about a messy room, they say 'BROKEN SHIP'. Haha, that's what my mother always insists on me to clean it up. I remember a story about a ghost that said they love messy and dirty place. No, I don't want a ghost stay in my room, or I'll hit them in face and nose. Do they have nose anyway? Forget about the ghost, and come in. :)

All of the event's poster I stole from board in campus (only my design except the 'My Name is Sinderella' ), and my favorite bands too.
So, i have an abandoned whiteboard that actually not running for it's function that turns into a pinboard. I made this collage from several magazine including travel magazine, flyer, catalogue, and even my teacher's thesis. Not so pretty actually, but it reflects all of my dreams. Then, I'm really into Coldplay and Keane, they're the bands I love the most. I love them since I was like in junior high school. Those posters of event and a film also I made it by myself except the 'My Name is Sinderella and I Hate My Stepsisters'. I collect them by when the event is over. It's something like 'Don't throw my poster to dustbin please'. I'm a newbie for the making of it, so... kinda bit narcissistic.



my own photoworks :)
The corner of my room is kinda new space for me. I made it a space for all my works, and some reminder board since I am a person that easily forget important things, so it so much help me to keep on my mind about something I should borrow or things to do, and also a tiny gallery for my photoworks.


I'm also into books and music
Books and music is two kinds of thing that fulfill my room everyday. My radio never stops playing great songs everyday, my earphone keeps on playing the indie musics I love, those CDs are the only I have. Well, I have only one, anyway. The Ting Tings, the CD I got from winning a quiz on radio, The Beatles I brought from my friend which she finally realized there was no CD inside it, but I love the cover, that's it. 

I realize that last semester was a CRAZY semester, I lived in my room from night to morning, the rest? I lived in campus. Yeah, a big surprise for me in December, my mother and my father changed the furniture,  and since then, I've got a brand new feeling about my room. What about your room? Have you fixed it up become a space where you are allowed to free your identity and show your favorites. Need inspiration? Click Teenage Bedroom This might help you to rearrange or being proud of your own messy room. I just love the tagline: This blog is my homage to all of us when we were still young and exciting, before we got old and boring.

9.1.12

Suatu Malam di Beranda


Aku. Menghempaskan seluruh beban pikiranku di sebuah beranda tua yang dingin. Badanku sedingin hujan yang menyelimuti dinding pabrik di depan rumah ini. Sinar lampunya menyorot dingin seakan ingin meleburku dalam malam yang bisu, hanya suara kricik-kricik yang terdengar merdu. Duniaku menjadi latah, tiba-tiba ingin menjadi apatis dan dingin. Aku lelah.

Lalu orang tua itu menyapaku dengan jaket coklat, serta sarung biru kotak-kotak mirip motif tartan. Aku hanya peduli dengan ceracau yang dingin tentang hujan, tanpa peduli bahwa orang lain sangat menyukai hujan. Ia duduk disampingku sambil mengancingkan jaketnya rapat-rapat. Tubuh yang senja telah membuatnya agak waspada dengan angin, hujan, dan malam. Namun, ia sering mengatakan tentang kesukaannya pada hujan sambil membayangkan pelita atau lampu minyak yang muncul dari kegelapan, membawa kabar gembira.

"Bagaimana ujianmu hari ini?", ia mulai bertanya.

"Payah! Mana bisa, bahan ujian yang tebalnya hampir seratus halaman, yang keluar waktu ujian cuma enam soal! Sia-sia aku begadang semalaman! dari yang kupelajari, justru yang nggak aku paham malah yang keluar!"

"Anak muda memang suka begitu, kurang berdo'a dan kurang bersyukur"

"Ah! Memang dosennya aja yang nggak masuk akal"

"Yah namanya saja kuliah. Hei! Nanti... kalau kamu sudah jadi dosen, kamu juga pasti akan jadi seperti itu. Ah! Ibu itu lho kalau ngasih soal suka bikin mahasiswanya tertipu", ia mengucapkan kalimat terakhir dengan muka mirip seekor bebek, menyebabkan keriput di wajahnya berkumpul di sekitar bibirnya.

Tetapi aku diam. Tak ada gunanya bercerita dengan orang ini. Ia tidak tahu betapa kecewanya aku malam ini. Ia pasti akan menyalahkanku, seakan-akan salahku sendiri tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Ah! Aku benci mata kuliah ini. Tapi, setidaknya aku harus lulus mata kuliah ini, nilaiku semester ini harus lebih baik dari semester sebelumnya. Mengapa tiba-tiba aku begitu peduli dengan nilaiku? Sementara, aku benci dengan mahasiswa yang sangat peduli dengan nilai mereka. Mereka hanya sibuk belajar setiap harinya, selalu update status di media sosial, aku pusing mengerjakan ini, mengerjakan itu, belajar ini, belajar itu. Sementara aku, harus bekerja sekadar untuk membiayai obat ibuku setiap bulan, membiayai adikku yang masih sekolah. Sedangkan, jika aku tidak peduli dengan kuliah, darimana aku membiayai kuliahku kalau bukan dari beasiswa. Namun terkadang, kerumitan itu menjadi sangat sederhana, jika aku bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. 

"Anak muda jaman sekarang ini memang enak hidupnya"

"Ah, opa pasti mau nasehati ya?"

"Ah, kamu memang suka besar kepala. Maksud opa, dulu waktu aku masih sekolah, mana ada buku catatan yang bisa disimpan? Adanya sabak, batu yang biasanya sekali tulis, hapus, sekali tulis, hapus lagi, itulah kenapa ingatan opa sampai sekarang masih bagus. Bukan kayak kamu, masih muda tapi sudah lekas pikun"

"Pikun?", tanyaku.

"Lupakan! opa juga lupa. Dulu, setiap hari Jum'at itu hari yang menyenangkan. Soalnya, kita diajarin nyanyi, kayak lagu Gundhul Gundhul Pacul misalnya...", ia diam sejenak, lalu mulai bergumam dan menyanyikan lagu itu.

Gundhul-gundhul pacul cul
Gemblelengan
Nyunggi-nyunggi wakul kul
Gemblelengan
Wakul ngglimpang, segane dadi ....

"Opa dulu anak mana?", aku memotong senandungnya.

"Dulu opa anak Skid!"

"Apa itu Skid, opa?"

"Itu nama daerah di dekat Tugu Pahlawan sana, di daerah Tembaan, dulu opa suka sekali numpang trem, gandholan bareng teman-teman, kalau turun loncat dari trem"

"Wah, seperti apa ya wujudnya trem, aku pingin ke Belanda opa, siapa tahu disana masih ada trem"

Aku suka menanyainya dengan kata-kata 'dulu'. Baginya, dulu adalah sebuah kenangan dimana dalam hidupnya ia pernah menjadi sosok orang yang luar biasa. Sama sepertiku, aku menikmati dulu sebagai orang yang luar biasa bahagia. Tapi opa memang benar, aku bukanlah orang yang pantas untuk mengeluh tanpa mensyukuri. Seandainya opa memang benar-benar ada. Aku menyukai kesederhanaannya dan kekanak-kanakannya dalam bercerita.

(Untuk kedua kakekku di surga, jika kalian masih hidup, aku akan bertanya apapun tentang 'dulu', dulu aku hanya anak kecil yang belum memikirkan alur hidup yang berliku)

Perjalanan Pulang


weheartit



(13 Oktober 2010)

Nyaliku naik turun di ambang petang

Belaian mendung tak urung melaju dalam pandang
Sering aku bertanya pada sore ‘tuk pastikan
Mengapa pohon-pohon itu berlarian mengejar
Mengapa burung-burung itu terbang dalam bayangan
Mengapa angin-angin itu menghindari celah-celah menganga lebar
Sedangkan aku melaju kencang bersama lampu-lampu desa
Berkejaran sampai ke kota