11.8.20

Awal Kemarau 2020 di Atas Kereta Sri Tanjung

Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang berlalu lalang di pikiran. Saking pusingnya serasa ingin ber-solo travel setelah pandemi ini berakhir. 

Kali ini kami melakukan sebuah perjalanan di tengah parahnya pandemi yang masih menyerang negeri. Tentu saja bukan perjalanan untuk tamasya. Kami memutuskan naik kereta karena lebih aman. Ini pertama kalinya pulang naik kereta api. Kepulangan kali ini adalah do'a yang telah kupanjatkan selama 3 tahun terakhir ini. Karena pandemi belum berakhir, kami harus tes rapid dulu dan menunjukkan hasilnya setiap akan boarding ke kereta. Kami naik kereta ekonomi Sri Tanjung dari Stasiun Gubeng ke Stasiun Madiun. 

Dari kejauhan tampak panas terik pertengahan bulan Juli, tapi kami masih bisa melihat hamparan hijau sawah. Tampak beberapa orang sibuk menggarap sawah. Ada juga yang sedang berteduh dibawah dua atau tiga pohon ditengah-tengah silaunya cahaya matahari. Beberapa anak kambing sibuk mengunyah dipinggir rel tanpa mempedulikan kota besi yang melaju meniup bulu-bulunya yang putih bersih. Angin yang menyapa dari pendingin udara membuat kami lupa panas udara luar yang dipisahkan oleh tipisnya dinding kereta. Waktu terus berlalu. Terkadang kereta melewati stasiun-stasiun kecil, kemudian berhenti sebentar di stasiun besar. Sampai akhirnya kami sampai di daerah Caruban dengan cahaya matahari yang mulai keemasan. 

Sekitar tiga hari kami menginap di Madiun. Menyelesaikan urusan yang harus diselesaikan. Aku pulang diiringi do'a ibuku. Semoga aku selalu dilimpahi kebaikan dan dimudahkan segala urusan. Sepulang dari sana aku memikul sebuah tanggungjawab baru. Semoga Allah memudahkan jalanku serta mewujudkan segala niat baikku. 

Kami sampai lagi di Stasiun Madiun pada Minggu pagi. Kereta akan berangkat sekitar jam 10. Kami sudah sampai di stasiun jam 8 pagi. Kami diantar taksi dari sebuah desa dekat Pasar Pagotan dan menempuh perjalanan sekitar 20menit untuk sampai di stasiun. Suasana masih lengang pagi itu, hanya ada beberapa orang yang bersiap naik Kereta Sri Tanjung ke Surabaya. Beberapa sepertinya calon mahasiswa yang diantar orangtuanya. Sepertinya mereka akan mengikuti tes di Surabaya. Kami semua segera menyiapkan kertas-kertas yang akan diperiksa oleh petugas.

Meskipun sudah sarapan, aku tergoda dengan aroma roti yang berbaur dengan kopi. Karena mereka memberikan diskon 50% maka aku membeli delapan sekaligus. Anak stasiun pasti hafal dengan merk roti ini. Kereta-pun datang, aku bergegas menyeret koperku. Sepanjang jalan menikmati barisan pohon jati yang berganti dengan barisan pohon trembesi. Lalu berganti lagi menjadi sawah yang berganti menjadi panjangnya pondok pesantren di Peterongan. Dari hutan jati, ke luasnya sawah hijau, sampai rumah-rumah penduduk yang berdempetan, jemuran yang digelar dibawah nyala matahari Surabaya. 

Perjalanan pun terhenti. Menyisakan perasaan yang teraduk-aduk. Akhirnya aku pulang. Entah kota mana yang akan kusebut dalam kepulanganku selanjutnya.